The Virtue of Writers

What I admire from the writers, aside from the magic they bring into their work, is their capacity to capture the secrets of life, the emotion and feeling that may enclose us everyday but we fail to care. Every time I read something quote-worthy in a book, I always wonder How do they know? Have they experience it all? How can they rephrase an emotion or feeling in such a way that makes us believe that that exactly how we felt or would feel in the same situations?  It seems impossible that a single person could portray a wide range of human emotion: sadness, jealousy, happiness, hatred, pride, inferiority, greed, desire, sincerity, and so on and so forth…with words that make so much sense we believe everything they say.

For example, a while ago I read The Husband’s Secret, a novel by Liane Moriarty, and came across these statements: Continue reading

Sepuluh Hal Penting Saat Menerjemahkan Fiksi

Berkaca dari pengalaman saya beberapa waktu lalu, pengalaman yang bikin saya cukup panas-dingin karena baru pertama kali merasakan ‘berhadapan langsung’ dengan penulis yang bukunya saya terjemahkan, sepuluh poin yang dipaparkan John McGlynn dari Yayasan Lontar dalam seminar On the Road to Frankfurt: How Translations Travel yang berlangsung tanggal 24 Maret lalu di Gedung Kompas Gramedia menurut saya layak dicatat (Duh, panjang sekali kalimat ini. Tolong diedit :D)

Berikut kesepuluh hal penting tersebut:

Translate, write and rewrite — Menerjemahkan, menurut saya, bisa dibilang sama dengan menulis ulang. Itu sebabnya terjemahan fiksi yang harfiah tentu tidak enak dibaca, karena…

Pay respect to original but honor the target language — Penerjemah wajib menghormati bahasa asli tapi juga harus menghargai bahasa target. Usahakan agar naskah yang kita terjemahkan bisa terbaca seolah-olah ditulis oleh orang Indonesia sendiri, bukan disadur dari naskah asing. Hargai pula panduan-panduan yang kita miliki sebagai penerjemah bahasa Indonesia, misalnya KBBI. Tentunya dengan tetap mengindahkan ‘suasana’ yang dibangun penulis dalam novel asli.

Continue reading

A Trip Down Memory Lane

IMG-20140313-WA0001_001Peti harta karun ini sudah 15 tahun lebih menemani saya. Dan isinya memang benar-benar harta karun, karena segala macam barang yang menurut saya berkesan atau ada ceritanya, semua saya cemplungin ke situ. Tumpukan diary, makalah-makalah kuliah, tiket-tiket pesawat, tiket-tiket konser, surat-surat, kartu-kartu, sampai karcis-karcis bioskop yang sekarang sudah tidak terbaca lagi tulisannya.

Tapi namanya juga tidak ada yang abadi ya, akhirnya peti bersejarah ini kalah sama rayap. Dan saya nyadarnya setelah sudah cukup banyak isinya yang hancur. Alhasil semalaman saya mengaduk kenangan demi kenangan yang tersimpan di dalamnya (ceileh bahasanya :D).

Dari benda-benda yang berhasil diselamatkan, nggak semuanya saya simpan lagi. Diary-diary galau penuh keluh kesah remaja saya putuskan untuk disingkirkan saja. Malu ah kalau suatu hari nanti dibaca sama anak cucu hahaha Continue reading

The Lunch Gossip dan The Lunch Reunion: Tentang Sahabat dan Kehidupan

photo0402Dua novel ini saya tuntaskan dalam waktu satu setengah hari saja. Memang bukan bacaan yang berat, jadi tidak sulit menyelesaikannya dalam sekali duduk. Ceritanya sendiri sangat sederhana, mengenai persahabatan lima perempuan yang dipertemukan karena bekerja di kantor yang sama. Lima perempuan dengan karakter berbeda-beda, dan dengan masalahnya masing-masing.

Mengapa saya jatuh hati pada tulisan Tria Barmawi tentang kehidupan Arimbi, Xylana, Kyntia, Vinka dan Keisha? Karena tuturannya yang sederhana dan realistis. Beberapa kali saya mencoba membaca novel bergenre metropop seperti ini, tapi malah jadi terintimidasi oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Yang sosoknya sempurna, gaya hidupnya selangit, yang gaya bicaranya bikin saya mengerutkan kening, dan ujung-ujungnya bikin saya kehilangan selera. Continue reading

Penghargaan untuk Penerjemah

Penghargaan untuk penerjemah tidak selalu berupa materi. Pencantuman nama di sampul atau halaman depan buku, atau undangan ke acara-acara yang berkaitan dengan buku yang diterjemahkan, misalnya, juga menjadi kebahagiaan tersendiri.

Salah satu penghargaan lain juga saya rasakan baru-baru ini, saat diminta menuliskan kisah di balik penerjemahan yang kemudian dimuat di website penerbit. Bukunya berjudul The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari, karya Robin Sharma, terbitan MIC Publishing. Senang karena para penerjemah diberi ruang untuk menampilkan diri (emang doyan narsis juga sih ya hahaha). Karena judulnya ada Ferrari-Ferrari-nya, saya kepikiran melampirkan foto di dalam mobil. Jadi sengaja deh foto-foto waktu kebetulan mau belanja ke supermarket dan parkirannya masih kosong. Bukan mobil Ferrari siiih…tapi tetap ada maknanya  lah. Semoga ^_^

Silakan ditengok cerita behind the book saya di SINI.

 

Passion dan Pa$$ion

Catch a Falling Star by Vixetra at www.deviantart.com

Catch a Falling Star by Vixetra at http://www.deviantart.com

Awalnya, saya hanya tergelitik membaca tulisan seseorang tentang fenomena makin banyaknya orang Indonesia yang bermimpi (sekolah) ke luar negeri gara-gara membaca Laskar Pelangi. Menurutnya itu mimpi yang naif karena orang-orang tersebut tidak tahu bahwa bisa ke luar negeri tidak menjamin hidup senang. Bahkan banyak yang memberondongnya dengan permintaan bantuan agar mereka bisa mendapatkan beasiswa seperti dirinya. Yang membuat saya tergelitik adalah: apa salahnya punya mimpi? Seabsurd apa pun mimpi kita, kalau memang niatnya kuat dan dikejar dengan sungguh-sungguh, bukan tak mungkin bisa tercapai. Kalau memang merasa terganggu dengan pertanyaan atau permintaan bantuan dari orang-orang itu, ya bilang saja tidak bisa membantu. Tapi saya memang tidak mengalaminya sendiri, jadi tidak adil kalau saya ‘menghakimi’ si penulis. Anggap saja ini perbedaan pandangan. Continue reading

Tantangan 365 Hari

Julie & Julia

Barusan saya menonton (kembali) film bagus ini. Dan tetap terpesona sampai nggak mau ninggal-ninggalin. Saking terpesonanya, saya sampai kepikiran untuk bikin tantangan blog seperti Julie. Buat yang belum tahu ceritanya, Julie & Julia diangkat dari kisah nyata Julie Powell, seorang editor di Brooklyn yang bercita-cita menerbitkan buku tapi setelah bertahun-tahun mencoba menulis, buku impian itu tak kunjung selesai. Kenyataan hidup memaksanya pindah ke Queens mengikuti suami, berganti profesi menjadi pegawai negeri yang tugasnya menerima berbagai macam keluhan warga melalui telepon, dan pulang ke rumah setiap malam dengan perasaan tak berguna. Hanya kegemarannya memasak yang menyelamatkan Julie dari kebosanan. Continue reading