Tantangan 365 Hari

Julie & Julia

Barusan saya menonton (kembali) film bagus ini. Dan tetap terpesona sampai nggak mau ninggal-ninggalin. Saking terpesonanya, saya sampai kepikiran untuk bikin tantangan blog seperti Julie. Buat yang belum tahu ceritanya, Julie & Julia diangkat dari kisah nyata Julie Powell, seorang editor di Brooklyn yang bercita-cita menerbitkan buku tapi setelah bertahun-tahun mencoba menulis, buku impian itu tak kunjung selesai. Kenyataan hidup memaksanya pindah ke Queens mengikuti suami, berganti profesi menjadi pegawai negeri yang tugasnya menerima berbagai macam keluhan warga melalui telepon, dan pulang ke rumah setiap malam dengan perasaan tak berguna. Hanya kegemarannya memasak yang menyelamatkan Julie dari kebosanan. Continue reading

Advertisement

It Takes A Village to Raise A Child?

ilustrasi

Beberapa waktu lalu, saya sedang berdiri di area foodcourt sebuah mal, berpikir-pikir mau pilih menu apa untuk makan siang hari itu. Mendadak, ada suara siulan (benar, siulan) dari belakang saya, yang saya tangkap maksudnya meminta saya minggir karena menghalangi jalan. Saya langsung menoleh, kepingin tahu kayak apa tampang orang nggak sopan itu, dan kaget waktu melihat ternyata yang menyiuli saya barusan adalah seorang anak berusia kira-kira sepuluh tahun. Dia melenggang dengan cuek melewati saya, sementara temannya terkekeh-kekeh melihat saya yang melotot. Apa anak itu tidak pernah diajari untuk meminta dengan sopan, “Permisi Bu” dan bukannya menyiuli orang yang jauh lebih tua darinya? Dengan dongkol, saya berkata dalam hati, “Kalau saya punya anak, nggak bakal deh anak saya jadi kurang ajar kayak begitu!”  Continue reading

Mumpung Masih Bisa…

IMG-20130325-WA0001_001Saya pernah membaca sindiran komentar di media sosial, mempertanyakan orang-orang yang senang memajang foto bersama pasangannya. Mau pamer kemesraan atau takut pasangannya direbut orang sih? Begitu kira-kira komentarnya. Saya sempat tertegun. Apakah sebegitu mengganggunya foto-foto yang (tanpa sengaja) memang seperti pamer kemesraan?  Karena walaupun nggak sering-sering amat, saya lumayan sering *lho gimana sih* majang foto bareng suami.

Lalu saya pikir, so what gitu loh. Mumpung masih bisa foto bareng, kenapa tidak? Toh saya nggak memajang foto yang aneh-aneh, dan memajangnya juga di timeline sendiri. Saya cuma berusaha menikmati apa yang masih diberikan Tuhan untuk saya sampai hari ini. Bener deh, mana ada manusia yang tahu besok nasibnya bakal kayak apa? Kecuali mungkin yang dikasih ‘bakat’ untuk melihat masa depan. Continue reading