Apa Warna Rambut Dorian Gray?

photo0164

Saat melakukan riset untuk terjemahan, kadang-kadang kita menemukan hal menarik yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Di buku yang baru saya terjemahkan, ada cuplikan novel The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde. Mungkin semua sudah tahu kisahnya. Tentang laki-laki super tampan, Dorian Gray, yang melontarkan keinginan bahwa ketampanannya tidak akan pernah pudar sementara wajah dalam lukisan dirinya yang akan menanggung semua beban hidup dan dosa-dosa yang dia lakukan. Wajah lukisan itu yang akan keriput atau bernoda atau berkerut kejam jika dia berbuat jahat, misalnya.

Nah, saya bertemu kalimat seperti ini (Dorian sedang merenungkan wajah dalam lukisan yang akan menua) : Its gold would wither into grey. Continue reading

Advertisements

Habibie & Ainun : Random Thoughts

  • Saya bukan pengamat yang bisa menilai isi film ini dengan cerdas, tapi saya berpendapat Habibie & Ainun adalah film cinta yang indah, karena tanpa Ainun, Habibie tidak bakal menjadi sosok seperti yang kita kenal. 
  • Meski dititikberatkan pada romansa kehidupan perkawinan, menonton film ini tanpa referensi politik sebenarnya sayang, karena perjalanan hidup keluarga mereka tak pernah lepas dari pusaran politik Indonesia. Saat Habibie digambarkan hendak memutuskan referendum Timor Timur misalnya, adegannya tidak gamblang dan mungkin banyak penonton muda yang kurang ngeh.
  • Dengan menafikan pendapat-pendapat berbeda yang beredar di luar sana, karena toh film ini diangkat dari buku yang ditulis oleh Habibie sendiri, saya semakin kagum kepada tokoh ini. Dia punya kesempatan untuk hidup nyaman dan terhormat di Jerman, tapi memilih untuk pulang ke Indonesia dan membangun industri pesawat dari nol. Perjuangan yang pada akhirnya terasa sia-sia, karena pesawat Gatotkoco buatannya kini hanya tergeletak berdebu di dalam hanggar. IPTN pun kini sudah tutup buku. Continue reading

Hope Springs: Ketika Perkawinan Berada di Titik Nadir

He is everything. But I’m very lonely. And I think to be with somebody and not really with him is…I think I might be less lonely if I were alone.

Kay dan Arnold sudah menikah selama 31 tahun. Dari luar, tidak ada yang salah dalam perkawinan mereka. Mereka masih saling menyayangi. Dua anak mereka sudah hidup mandiri dan sesekali menengok mereka tanpa ribut-ribut. Kondisi keuangan mereka baik-baik saja, meski tidak berlebihan. Mereka hanya sudah sampai pada titik ketika perkawinan menjadi sekadar sebuah rutinitas. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, pergi ke tempat kerja, pulang, makan malam, obrolan basa-basi, lalu tidur di kamar masing-masing. Ya, mereka tidur terpisah. Bukan karena bermusuhan, tapi gairah itu memang sudah memudar. Terutama di pihak Arnold yang tidak merasa nyaman tidur satu ranjang dengan istrinya. Continue reading