Mencicipi Novus Puncak

Sebenarnya sudah lama ngintip-ngintip tempat ini, tapi baru sekarang kesampaian menginap di sini. Nggak diniatin juga sih, tapi berhubung udah lama nggak liburan berdua, Eko saya paksa jalan-jalan, walaupun cuma ke puncak. Yang penting ada refreshingnya. Dari Depok naik kereta api sampai stasiun Bogor, terus ganti kendaraan umum dua kali, sampai deh persis di depan Novus.

Akhir pekan itu Novus cukup ramai karena ada rombongan kantor, jadi kamar yang tersedia mulai dari deluxe balcony. Kamar standard dan superior yang paling murah sudah habis. Tapi untung juga kami pilih deluxe balcony, karena dari kamar kami pemandangannya langsung lembah, benar-benar penyegaran buat mata. Kalau dapat yang menghadap tempat parkir atau kolam renang, duh males banget. Nggak privat rasanya. Continue reading

Advertisements

Serba Minimalis di Hotel Pop! Bandung

Hotel yang baru dibuka bulan Desember 2011 lalu ini memang serba minimalis. Namanya juga budget hotel, jadi yang kita dapat benar-benar sesuai dengan yang kita bayar.

Dimulai dari lobi yang fungsional, hanya meja resepsionis dan tiga komputer berinternet bebas pakai di sebelah kiri, serta ruang makan kecil di sebelah kanan. Adik saya sempat menanyakan apakah ada troli untuk membawa barang-barang, maklum dengan dua balita bawaannya lumayan banyak. Tapi petugas resepsionis mengatakan bahwa di hotel ini semua self-service, jadi untuk membawa barang pun tidak ada bantuan. Begitu pun saat Eko meminta plester untuk keponakan saya yang jarinya terluka, petugas hotel mempersilakan kami membeli sendiri di mal 😛

Continue reading

Sebuah Catatan dari Tugu

Lobi hotel

Lobi hotel

Tidak mungkin untuk tidak jatuh cinta pada hotel cantik ini. Tapi kesempatan istimewa untuk makan malam bersama pemiliknya, makin membuat saya terpesona. Walaupun menolak disebut eksentrik, tapi dari obrolan seru bersama beliau (makan malam dimulai pukul 19.30 dan baru selesai lewat tengah malam) kesan itulah yang saya tangkap.

Ternyata, pemilik Tugu Hotel (Blitar, Malang, Bali, Lombok), Dapur Babah, Lara Djonggrang, Samarra, Waroeng Shanghai Blue 1920 (Jakarta) ini tidak menyukai riuh-rendah dunia hotel maupun restoran. Dia sebenarnya membangun tempat-tempat itu untuk menampung koleksi barang antiknya yang berjumlah puluhan ribu! Jadi setelah selesai menata dan mendekor semua properti miliknya, dia jarang mendatanginya lagi untuk mengecek masalah operasional. Semua diserahkan kepada anak-anaknya atau manajer yang dipekerjakan secara profesional.

Di sudut terpencil pun ada benda antik

Di sudut terpencil pun ada benda antik

Bapak Anhar S. tidak menyukai publisitas, tidak suka keramaian, tidak suka pesta, tidak suka beredar di antara kalangan sosialita lainnya, tidak suka majalah Indonesia Tatler (if you know what I mean :). Liburan favoritnya adalah menyepi di losmen kumuh di tengah pasar Nepal, bangun tengah malam untuk mengamati bhiksu tua berjalan pelan memberkati setiap kios di pasar tersebut. Atau minum susu segar di pasar kambing yang telah berusia 1000 tahun. Hobinya mblasak mblusuk ke pasar tradisional di Indonesia, mengobrol dan bergaul dengan orang-orang yang sulit membuka pintu untuk orang asing, tapi punya banyak cerita dan informasi tentang barang antik. Dan untuk itu, dia punya koleksi baju rombeng yang dipakainya setiap kali keluyuran ke sana. Continue reading