Back to Nature (Again)

photo0160_001

Baiklaaah… jadi sudah sampai mana program bayi tabung kami? Belum sampai ke mana-mana. Ditangguhkan. Hingga waktu yang belum ditentukan.

Bingung ya? Nggak siih…namanya juga hidup, pasti ada aja kejadian di luar rencana. Nah, yang terjadi adalah, Bapak kurang setuju kami mencoba bayi tabung. Saya rasa sih karena dia masih sangat asing dengan konsep tersebut. Jadi bukan karena anti atau apa. Bahkan waktu pertama kali saya menyampaikan ide itu, tanggapan pertama Bapak adalah, “Berarti harus ke Singapur dong?” Dan tercengang-cengang waktu saya ceritakan kalau di Indonesia pun sudah banyak rumah sakit yang kondang karena keberhasilan program bayi tabungnya. Tapi tetap saja beliau menyarankan agar kami mencoba upaya lain dulu. Umroh berdua, misalnya. Duh, andai a a a aku jadi orang kaya😀

Bapak lalu mengusulkan agar kami mencoba pengobatan alternatif yang sudah dilakoni kakak saya waktu baru operasi pengangkatan rahim akibat tumor. Alternatif lagiii? Yowislah, kali ini kan disertai doa dan restu orangtua, siapa tahu lebih manjur hehehe.

Pengobatan alternatif ini judulnya terapi resonansi magnetis, nama terapisnya Bapak Landjar. Kalau praktik rapii deh. Pakai jas, dasi, dengan netbook yang selalu setia menemani. Cara mendiagnosa penyakitnya juga canggih. Kalau laki-laki dia pegang telapak tangan kiri. Kalau perempuan dia suruh minum air sedikit lalu sisa airnya dianalisis. Dia ‘memvonis’ Eko sehat, dengan jumlah sperma sekian sekian yang termasuk normal. Jadi berasa sayang ya ngeluarin duit buat periksa laboratorium😀

Sementara saya divonis ada miom 31 mm di ovarium kiri, selain kista endometriosis di kanan yang sudah diangkat itu😦 Saya sempat kaget, karena miom kan lebih ganas daripada tumor. Tapi kemudian saya mikir, jangan-jangan miom itu yang bikin tuba falopi kiri saya lengket tanpa diketahui penyebabnya. Pak Landjar sih menyarankan saya USG 4d di rumah sakit kalau ingin mengecek benar tidaknya diagnosa beliau. Ini yang saya suka dari Pak Landjar. Dia selalu menyarankan agar kami periksa ke dokter supaya lebih pasti. Dia hanya melarang kami berobat ke tempat alternatif lain karena khawatir obatnya bentrok.

Kisah sukses pasien yang berobat di sini? Tentu ada. Salah satu contoh, tetangga kakak saya di rahimnya ada tumor sebesar telur, tapi dia tidak mau dioperasi. Berobat ke Pak Landjar tumornya hilang sama sekali. Dia sudah memastikannya dengan memeriksa lagi ke dokter. Dokter pun takjub dengan ‘keajaiban’ itu🙂 Saya sendiri belum cek ke dokter untuk memastikan benar tidaknya ada miom. Nanti deh kalau lagi mood.

Pengobatannya sendiri seperti apa? Yang terutama sih jamu. Ada dua pilihan. Beli jamu cair (sudah jadi) setiap minggu, atau beli jamu kering dan menggodok sendiri di rumah. Pengalaman saya, sekali godok bisa buat 4-5 minggu. Harganya lebih mahal jamu kering, karena mungkin lebih pekat ya, sementara yang sudah jadi dibuat massal untuk banyak orang. Jamu ini nggak boleh putus minumnya, jadi sebelum habis sebaiknya sudah nyetok lagi. Walaupun cukup mahal, tapi kalau dibandingin biaya operasi sih masih jauh lah.

Sementara terapi resonansinya sendiri cuma 2 menit. Tangan Pak Landjar diletakkan di depan bagian yang sakit (tidak disentuh) lalu dibacakan apa lah entah hehehe. Yang lama itu ngantrenya.

Oh, ada juga pantangan makan dan minum. Setiap orang beda-beda pantangannya, tergantung penyakit. Pantangan saya:  ayam, bebek, burung, segala jenis telur, kambing, madu, makanan yang mengandung zat pengawet/pewarna, alkohol dan soft drink. Tampak berat? Itu belum seberapa. Saya mengintip pantangan pasien lain, ada yang tiga kali lebih banyak, sampai makanan yang asin dan kacang-kacangan pun dilarang. Rebusan teruuuss itu kayaknya😀

Jamu

Yang heboh juga adalah proses menggodok jamu. Satu jenis jamu kering dibuat untuk 15 liter. Sementara saya dikasih dua jenis, KNK dan INF. Saya sih menduga itu kode untuk kanker dan infertilitas. Cara menggodoknya cukup seru. Jamu  1 digodok dengan 15 l air sampai tinggal 7,5 l. Ditambah 7,5 l lagi sampai mendidih. Jamu 2 juga begitu. Setelah itu dicampur dan didinginkan, baru dituangkan ke botol-botol dan disimpan di kulkas. Butuh sekitar 12 jam sampai jamunya jadi. Berasa kayak Severus Snape lagi bikin ramuan sihir!  Rasanya? Jangan ditanya. Teh pahit kejatuhan teko sama gelas-gelasnya mah lewat deh!

Alhamdulillah banget ada Eko. Ada yang nganter terapi setiap minggu dan bantuin bikin jamu. Kalau saya ketiduran pun dia yang lanjutin nggodok sampai selesai.

Saya sih nggak berani berharap tinggi-tinggi. Yang penting sekarang saya mengobati miomnya dulu. Karena menurut ilmu manusia, selama masih ada miom, kecil kemungkinannya atau bahkan mustahil bisa hamil. Jadi biar sehat dulu aja deh yaa…

Ya Allah Yang Maha Pengasih, janganlah Engkau tinggalkan suatu dosa dalam diriku melainkan Engkau mengampuninya, tidak pula suatu kesusahan melainkan Engkau mempermudahnya, dan tidak pula suatu kebutuhan yang Engkau ridhai melainkan Engkau memenuhinya, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

18 comments on “Back to Nature (Again)

  1. Ayu Yudha says:

    *peluk mamih*

    terus mamih gak jadi punya pantangan makanan kan?

  2. Fawwa says:

    makan rebus-rebusan aja kayak aku ya?😀

  3. Semoga Allah segera memberikan anugrahnya pada keluarga mbak bruziati.

    Salam kenal ya mbak🙂

  4. azmee says:

    semangat kak uci ^^ *peluk*

  5. dhee says:

    semangat, mamiiih.. semoga yang terbaik yaaa *peluk*

  6. ana says:

    Mba Uci, aku jadi inget waktu terapi benjolan juga, disuruh kesana kemari, minum obat ini rebusan itu, parutan umbi ini itu, >,< duh rasanya pengen sembuh tapi ditelateni melulu kok ya ngga berubah2…
    Makanya relate banget sama cerita mba uci ini… untung suami mba Uci mendukung banget ya, jadi bisa bantuin dan semangatin!. Semoga sesudah ikhtiar ini, diberikan kesehatan dan keberkahan ya mba,, dan semoga segera dikabulkan hajat dan doa-doanya..

  7. aya says:

    Mbak..salam kenal..aku pernah menjalani byk ikhtiar utk punya anak, termasuk BT. Alhamdulillah skrg sdh ada si junior. Kalo Mbak ga keberatan, aku pengen share informasi (tanpa ada unsur promosi atau jualan..hehe), email aja ya Mbak..

  8. Tetap semangat ya Bu. Maaf, mampir ke blognya. Sekedar untyk menambah semangat, saya saat hami pertama punya kista 2, ovarium kanan 12 cm dan ovarium kiri 7,5 cm ( hasil usg). Ovariym kiri sudah rusak. ALHAMDULILLAH, ALLAH SWT masih beri kepercayaan anak. Anak pertama lahir selamat.
    Setelah itu keguguran 3x berturut-turut. Hamul kelima, baru bida dapat anak kedya lahir selamat.
    Pas hamil keenam, periksa payudara kok ada benjolan. Lalu disarankan teman ke Pak Lanjar, ternyata saya kanker payudara plus kanker rahim.
    Jadi pas keguguran 3x dulu itu saya sudah kanker kata Belua krn kanker saya sebemarnya sudah lama.
    Kalau ALLAH SWT berkehendak, apa pun pasti terjadi. Dengan ovarium rusak, kista dan kanker, saya yg divonis dokter ga bisa punya anak, ALHAMDULILLAH, dupercaya busa hamil dan melahirkan 2 anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s