Back to Nature (Again)

photo0160_001

Baiklaaah… jadi sudah sampai mana program bayi tabung kami? Belum sampai ke mana-mana. Ditangguhkan. Hingga waktu yang belum ditentukan.

Bingung ya? Nggak siih…namanya juga hidup, pasti ada aja kejadian di luar rencana. Nah, yang terjadi adalah, Bapak kurang setuju kami mencoba bayi tabung. Saya rasa sih karena dia masih sangat asing dengan konsep tersebut. Jadi bukan karena anti atau apa. Bahkan waktu pertama kali saya menyampaikan ide itu, tanggapan pertama Bapak adalah, “Berarti harus ke Singapur dong?” Dan tercengang-cengang waktu saya ceritakan kalau di Indonesia pun sudah banyak rumah sakit yang kondang karena keberhasilan program bayi tabungnya. Tapi tetap saja beliau menyarankan agar kami mencoba upaya lain dulu. Umroh berdua, misalnya. Duh, andai a a a aku jadi orang kaya 😀 Continue reading

Advertisements

Bayi Tabung?

Sampailah saya pada tahap ini, ketika akhirnya saya mulai mencari-cari informasi tentang bayi tabung. Setelah enam tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak, saya mulai mempertimbangkan alternatif tersebut karena kehamilan secara alami tampaknya akan sulit terjadi (bukan mustahil, karena kepastian hanya ada di tangan Allah).

Berawal dari niat saya untuk serius menjalani program kehamilan secara medis tahun ini, setelah beberapa upaya yang kami lakukan di tahun-tahun lalu belum membuahkan hasil. Mulai dari pijat refleksi, pijat perut, akupunktur, bekam, semuanya belum membuka jalan bagi kami untuk menimang buah hati.

Di awal tahun, saat membuka website RS Bunda Margonda, ternyata saya menemukan nama teman SD saya, dr Dian Indah Purnama, di daftar dokter kandungan.  Wah, kebetulan sekali. Saya langsung janjian lewat sms dan beberapa hari kemudian datang ke Bunda. Continue reading