It Takes A Village to Raise A Child?

ilustrasi

Beberapa waktu lalu, saya sedang berdiri di area foodcourt sebuah mal, berpikir-pikir mau pilih menu apa untuk makan siang hari itu. Mendadak, ada suara siulan (benar, siulan) dari belakang saya, yang saya tangkap maksudnya meminta saya minggir karena menghalangi jalan. Saya langsung menoleh, kepingin tahu kayak apa tampang orang nggak sopan itu, dan kaget waktu melihat ternyata yang menyiuli saya barusan adalah seorang anak berusia kira-kira sepuluh tahun. Dia melenggang dengan cuek melewati saya, sementara temannya terkekeh-kekeh melihat saya yang melotot. Apa anak itu tidak pernah diajari untuk meminta dengan sopan, “Permisi Bu” dan bukannya menyiuli orang yang jauh lebih tua darinya? Dengan dongkol, saya berkata dalam hati, “Kalau saya punya anak, nggak bakal deh anak saya jadi kurang ajar kayak begitu!” 

Seperti halnya ibu-ibu yang dengan riuh mengomentari kelakuan AQJ, anak di bawah umur yang nekat mengendarai mobil sendiri dan akibatnya mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa orang lain, tapi pada saat yang sama mereka dengan enteng menyerahkan kunci motor kepada anak-anak mereka, yang bahkan belum cukup tinggi untuk menapakkan kaki ke jalan saat menaiki kendaraan tersebut. Kalau ditanya, jawaban mereka biasanya, “Ah, kalau anak saya sih ngerti tanggung jawab, nggak bakal kebut-kebutan. Mainnya juga di dalam kompleks saja.”

Sampai suatu hari, saya sedang naik mobil dan berpapasan dengan odong-odong berbentuk mobil-kereta yang dipenuhi anak-anak, bahkan ada yang memangku adik bayinya. Seperti lazimnya odong-odong, si sopir memutar lagu dengan volume kencang. Saya mengernyit mendengar lagu yang diputar. Lagu dangdut Buka Sitik Joss yang sedang sangat populer saat ini dan liriknya menurut saya mesum. Sambil berjalan terus, saya mengomel-ngomel menyalahkan si sopir karena tidak bisa membedakan mana lagu yang pantas untuk didengar anak-anak dan mana yang tidak. “Kalau saya ibu anak-anak itu, nggak bakal saya kasih mereka naik odong-odong tadi. Keponakan-keponakan saya pun bakal saya larang naik.”

Lalu mendadak saya terdiam. Dan berpikir. Kalau saya memang sebegitu pedulinya dengan perkembangan anak-anak, seharusnya saya tadi berhenti, turun dari mobil dan meminta si sopir untuk mengganti pilihan lagunya. Tapi mungkin saya terlalu cuek, atau terlalu malas memancing keributan (karena belum tentu si sopir menerima teguran saya dengan baik). Mungkin sebagian dari kita berpikir, selama anak-anak kita sendiri tumbuh dengan baik dan ‘bermoral’, peduli setan dengan anak-anak orang lain. Yang penting anak kita tidak tercemar.

It takes a village to raise a child. Masihkah berlaku?

9 comments on “It Takes A Village to Raise A Child?

  1. pingkanrizkiarto says:

    hahaha… suka serba salah juga sih Ci… emak2 sekarang ini banyak yang suka sensi kalau ‘diajari’ atau dikomentari dikit aja soal cara dia mengasuh anak… gak tau juga kenapa….
    biasanya langsung defensif aja bawaannya… :p

    • bruziati says:

      Mungkin karena pada dasarnya nggak ada orang yang mau disalahin ya Mbak, gue yang paling bener, gitu,

    • Kubayangkan, itu karena “komentar” atau “nasihat” orang tentang cara mengasuh anak pasti terasa sebagai teguran “kamu bukan ibu yang baik” atau “kamu bukan ayah yang baik”. Wajar aja sih kalau orang sensi soal ini. Siapa yang pengen dibikin merasa dia bukan orang tua yang baik?

      Kecuali kalau kita pernah mengomentari hal-hal baik yang dilakukan seseorang saat mengasuh anak, sebaiknya kita juga ngga usah mengomentari orang itu tentang hal-hal tindakannya yang kita anggap “keliru”. Biar berimbang. Menurutku sih…

  2. Nita says:

    di sekolah anak2 pernah ada yg berantem, Ci. Ganas deh 2 cowok sampai guling2 di parkiran samping. Bapak2 dan ibu2 yg di dekat situ cuma diam, nonton (nunggu ada yg cedera gitu? hiii. cuek banget liat anak orang memar-memar). Saya akhirnya misahin, ikut digebukin salah satunya loh (anak kls 4, gedenya hampir sama dgn saya). Saya peluk aja anak yg ngamuk itu dari belakang, sambil nahan tangannya yang mau mukulin. Saya ajak istighfar sampai dia tenang. Sedih liatnya, anak kecil yg bingung melampiaskan emosi.

    • bruziati says:

      Aduh, serem banget Mbak. Itu beneran orangtua yang ada di situ pada diem aja? Paling nggak teriak-teriak manggil guru atau apa gitu. Untung Mbak Nita mau turun tangan dan bisa nenangin si anak😥

      • Nita says:

        Iya sampai heraan sekali saya, kok ngga ada yg nengahi. Dikira becanda ‘kali. Kebersamaan antarortu kok rada2 kendur nih kayaknya. Alhamdulillah stl tenang, anal2 itu mau saya suruh maaf-maafan🙂

  3. bundanadnuts says:

    Iya, Ci. Gw termasuk yg memilih diam, selama bukan Hana yg jadi korban. Bukan apa-apa, kadang serem sama emak2 di sekolah. Pernah ada yg anaknya melakukan kesalahan, ditegur, eh galakan dia. *tepokjidattuemak*

    Salut sama Mbak Nita. Kalo aku mungkin cuma berani bantuin manggilin satpam doang.🙂

  4. Begitulah anak zaman sekarang Bu, murid saya di sekolah pun tidak kenal sopan santun walaupun sudah kami ajarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s