Terpikat Jawa Timur

P1000633

Menuju Gunung Bromo

I am never an outdoorsy girl. Dari dulu saya ini orang kota yang cuma sesekali berkeliaran ke alam bebas. Makanya pilihan tempat liburan saya selama ini selalu yang ‘aman-aman’ saja, seperti mBandung, mBali, nJogja…hehehe.

Tapi entah mengapa, menjelang milad saya tahun ini, saya kepingin banget melihat alam Indonesia. Dan yang terlintas di kepala adalah Bromo. Ditambah lagi, tak lama kemudian saya dan suami, Eko, menonton film “King” yang berlokasi di Kawah Ijen. Akhirnya kami pun sepakat untuk melangkahkan kaki ke Jawa Timur.

Perjalanan ke Bromo dimulai dari Malang pada hari Selasa pagi (4 Agustus 2009) setelah menghabiskan 15 jam di Kereta Api Ekspres Gajayana dari Jakarta.

Sebelumnya, kami sudah janjian dengan Bapak dan Ibu Mulyadi, warga desa Ngandas, desa terakhir di Malang sebelum memasuki kawasan Bromo. Mereka biasa mengantar wisatawan, walaupun pekerjaan utama mereka adalah bertani. Kami sengaja memilih mereka dan bukan travel guide profesional karena ingin merasakan Bromo yang ‘asli’. Pak Mulyadi sendiri seorang suku Tengger, suku yang mendiami kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dan tersebar di empat wilayah yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional ini.

Kendaraan tempur Pak Mulyadi

Kendaraan tempur Pak Mulyadi

I. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

Coban Pelangi

Coban Pelangi

Dalam perjalanan ke Desa Ngandas, kami mampir di air terjun Coban Pelangi. Di sinilah ‘cobaan’ itu dimulai. Waktu turun ke air terjun sih masih kuat, tapi begitu mendaki jalan pulang, mulailah napas saya tersengal-sengal, kayak orang mau semaput. Sebenarnya sebelum memulai liburan ini, saya dan suami sudah berniat olahraga, untuk persiapan. Tapi yaahh…begitulah, niat tinggal niat. Suami sih kuat, sayanya yang payah hehehe. Padahal ini belum seberapa dibandingkan tantangan-tantangan yang masih menunggu kami di depan.

Malam itu, kami menginap di rumah Pak Mulyadi, sebuah rumah sederhana namun menawarkan kehangatan yang luar biasa. Selama semalam di sana, kami jadi tahu bahwa ruang tamu masyarakat Tengger biasanya tidak berfungsi. Mereka lebih suka berkumpul di dapur, di depan tungku, mengobrol ke sana kemari sementara si ibu menyiapkan masakan. Begitu kami meminum air yang mereka suguhkan, kami langsung dianggap sebagai keluarga. Ngomong-ngomong, air di sini dingin banget euy! Waktu cuci muka atau wudhu, rasanya kayak nyemplung ke dalam es! Brrrr….untunglah waktu mau mandi Bu Mulyadi dengan sigap sudah menyiapkan air panas.

Di dapur keluarga Bapak dan Ibu Mulyadi

Di dapur keluarga Bapak dan Ibu Mulyadi

Keesokan harinya, kami dibangunkan jam dua pagi. Dengan persiapan baju dobel,  kaus kaki dobel, jaket tebal, sarung tangan, dan topi kupluk, kami pun berangkat bersama Pak Mulyadi dengan jeep tuanya yang tangguh.

Di tengah gelapnya malam, kami menyusuri jalan sempit yang berkelok-kelok naik turun, sementara di kanan-kiri jurang-jurang hitam menganga. Cukup bikin deg-degan juga. Setelah itu kami melintasi savana dan lautan pasir yang membentang luas, diapit Gunung Bromo, Batok, dan Semeru yang berdiri gagah sementara di atas kami bulan bersinar bulat penuh. Suasananya begitu magis. Terbayang betapa gunung-gunung itu, dan lautan pasir itu, dan bulan itu, telah ada di sana selama ribuan, bahkan jutaan tahun. Kami hanyalah sebutir debu yang numpang lewat dalam kehidupan mereka.

Pemandangan dari Puncak Penanjakan

Pemandangan dari Puncak Penanjakan

Jam empat pagi, sampailah kami di Puncak Penanjakan, titik tertinggi untuk menyaksikan matahari terbit di kawasan Bromo. Walaupun bukan musim liburan, ternyata banyak juga wisatawan yang datang. Kebanyakan sih orang asing. Mungkin mereka sengaja memilih waktu di luar liburan sekolah anak-anak Indonesia, karena pada saat itu tempat ini pasti sangat penuh. Jadilah saat berdesakan (sumpah, berdesakan lho!) menanti sang surya pentas di panggungnya di langit sana, saya mendengar percakapan dalam beragam bahasa di sekeliling saya. Spanyol, Inggris, Jerman, Prancis, Jepang. Hmmm….kata siapa orang asing takut datang ke Indonesia setelah bom kemarin? Eat this, you coward terrorists!

Cukup lama juga kami menunggu. Kira-kira jam setengah enam, akhirnya bulatan emas berkilau itu menampakkan diri dari balik punggung gunung. “Ahhhh….” begitu gumaman mulut-mulut di sekitar saya.

Rupanya memang benar, heaven isn’t too far away….

P1000589

Setelah hari terang, pemandangan spektakuler di bawah sana bisa terlihat dengan jelas. Orang-orang berebutan memilih tempat paling strategis untuk berfoto. Walaupun tidak saling kenal, tapi karena punya kepentingan yang sama, yaitu mendapatkan foto terbaik untuk kenang-kenangan atau dipamerkan di blog (hehehe), kami saling bantu untuk memotret dan dipotret.

Turun dari Penanjakan, kami merapat ke Gunung Bromo. Untuk melindungi kawasan ini, dibuatlah patok-patok sehingga mobil tidak bisa mendekat.Cara mencapai kaki gunung, bisa dengan jalan kaki atau naik kuda. Saya pilih naik kuda tentunya, menyimpan tenaga untuk  menaiki sekitar 200-an anak tangga yang dibangun untuk mempermudah wisatawan melihat kawah Gunung Bromo yang masih aktif dan mengepulkan asap di atas sana.

Di puncak Gunung Bromo

Di puncak Gunung Bromo

Benar saja, saat menaiki tangga, saya harus berhenti berkali-kali karena kehabisan napas dan dengkul rasanya mau copot. Suami pun sibuk menyemangati saya, yang saking payahnya sampai berkata, “Aduh, jantungku. Jantungku…” Lebai banget deh! Tapi, jahatnya,  saya cukup terhibur melihat banyak wisatawan lain yang juga kepayahan seperti saya. Artinya, saya kan nggak payah-payah amat hehehe.

Pemandangan di puncak Bromo sama menakjubkannya. Walaupun saya terus terang kurang bisa menikmati karena permukaan yang sempit, di kiri kawah di kanan lereng. Aduh, dengkul yang masih gemetar rasanya tidak sanggup diajak menapakinya. Jadi saya hanya bersandar di pagar pembatas, sementara suami saya asyik berjalan dari ujung ke ujung.

Pasir Berbisik

Pasir Berbisik

Kami masih berhenti lagi beberapa kali, untuk foto-foto di lautan Pasir seluas 5.250 hektar yang sempat jadi lokasi pembuatan film “Pasir Berbisik” . Juga di savana dengan latar belakang perbukitan. Perbukitan ini dijuluki Bukit Teletubbies karena bentuknya seperti deretan bukit di film anak-anak itu. Berdiri di tengah savana ini, rasanya sungguh damai karena tak ada suara apa pun selain desau angin dan gemerisik rumput yang mengering di musim kemarau. Tinggal di sini seminggu bisa kelar satu novel kali yah….hehehehe.

Kiri :  Savana Kanan : sarung khas warga Tengger

Kiri : Savana
Kanan : sarung khas warga Tengger

Selama di rumah Pak Mulyadi, kami juga mengobrol banyak dengan kedua putra mereka, Dani dan Arif. Dani mahasiswa di Malang (hanya dua putra desa Ngandas yang kuliah, satu lagi anak kepala desa), sementara Arif kelas 1 SMP. Kami senang melihat Dani yang walaupun kuliah di kota, sikap dan hatinya tetap orang desa. Dia bilang, kapan pun orangtuanya butuh dia untuk cari rumput atau berladang, dia pasti langsung pulang. Arif juga begitu, sangat santun dan ‘nurut’ sama orangtua. Sayangnya, dia mengeluhkan guru sekolahnya yang tidak tentu datangnya. Kalau cuaca buruk atau terlalu dingin, sang guru biasanya tidak datang karena tempat tinggalnya jauh di kota sana.

Bersama keluarga Bp. dan Ibu Mulyadi

Bersama keluarga Bp. dan Ibu Mulyadi

II. Segara Anakan – Pulau Sempu

Sore itu kami kembali ke Malang untuk beristirahat di hotel karena besoknya, Kamis, kami minta diantar ke Pulau Sempu. Pulau kecil ini merupakan kawasan cagar alam yang terletak di ujung selatan kota Malang. Jaraknya dari Malang kurang lebih 60 kilometer, melewati daerah perbukitan yang berkelok-kelok dengan pemandangan indah dan di ujungnya, tiba-tiba saja jalan raya berakhir, berganti dengan pasir Pantai Sendang Biru dan hamparan Samudera Indonesia di depan mata.

Pantai Sendang Biru. Sebagai orang gunung, Pak Mulyadi sekeluarga sama sekali tak mau menyentuh air laut.

Pantai Sendang Biru. Sebagai orang gunung, Pak Mulyadi sekeluarga sama sekali tak mau menyentuh air laut.

Kami tertarik mengunjungi pulau ini karena ingin melihat Segara Anakan yang terkenal itu. Banyak yang menyamakan danau di ujung pulau ini seperti Phi Phi Island di Thailand yang juga terisolasi. Segara Anakan terlindung dari laut oleh tebing-tebing karang yang mengelilinginya. Namun ada sebuah lubang besar di salah satu sisi tebing, tempat air laut mengalir masuk sesekali. Sehingga danau ini selalu terisi air.

Untuk bertandang ke Pulau Sempu, kita harus izin dulu di Pos Penjaga. Tapi sepenglihatan saya, banyak juga pengunjung yang langsung datang begitu saja, mungkin karena sudah biasa ke sana. Jangan-jangan memang sudah terkenal sebagai tempat pacaran? Entahlah…

Menuju Pulau Sempu

Menuju Pulau Sempu

Ditemani Pak Setyadi, penjaga di kawasan cagar alam ini, kami menyeberang ke Pulau Sempu naik perahu dengan biaya 100 ribu rupiah PP. Dan lagi-lagi, saya harus merasakan akibat dari kemalasan saya berolahraga, karena untuk mencapai Segara Anakan, kami harus trekking melintasi hutan selama kurang lebih 1 jam, dengan jalur yang tidak selalu rata alias naik-turun. Yup, mari kita berolah fisik lagi!

Trekking menuju Segara Anakan

Trekking menuju Segara Anakan

Kelelahan itu terbayar ketika sampai di Segara Anakan. Rasanya tidak perlu dilukiskan dengan kata-kata. Langit biru, air bening, pasir putih, naungan hutan di belakang  kami dan debur ombak di balik tebing tinggi….nikmat betul rasanya jadi manusia yang diberi begitu banyak ‘hadiah’ oleh Allah.

Sebenarnya, untuk menikmati Segara Anakan dengan maksimal, sebaiknya kita bermalam atau berkemah. Karena tempat ini akan terlihat luar biasa indahnya di sore dan malam hari ketika bulan bersinar penuh. Selain itu, ada tiga pantai terpencil lain di Pulau Sempu, yang sangat jarang didatangi orang. Butuh waktu sehari penuh hanya untuk menyambangi pantai-pantai itu. Sayang waktu kami terbatas. Jadi setelah main-main pasir dan air, kami langsung beranjak pulang.

Segara Anakan yang memesona

Segara Anakan yang memesona

Tiba di Pantai Pulau Sempu, ternyata air laut sedang surut. Jadi kami harus berjalan di permukaan pasir yang tadinya penuh air, ke tempat perahu menunggu. Selamat tinggal Pulau Sempu….mudah-mudahan suatu hari nanti kami bisa kembali lagi dan bermalam di pelukanmu…

III. Kawah Ijen

Mampir Toko Oen dulu

Mampir Toko Oen dulu

Hari Jumat pagi, kami dijemput Mas Faiz, Mas Rahmad dan Mas Irfan dari Safari Tour & Travel, untuk berangkat ke Banyuwangi. Tadinya kami berniat ngeluyur sendiri aja ke Banyuwangi, di sana baru cari-cari tempat menginap dan transportasi ke Kawah Ijen. Tapi ternyata perjalanan Malang-Banyuwangi cukup jauh dan lama.  Transportasi juga tidak segampang yang kami kira. Jadilah untuk menghemat waktu, kami mencari informasi lewat internet dan menemukan Mas Faiz. Dan kami tidak salah pilih, karena pelayanan mereka saangat memuaskan.

Di Probolinggo, kami mengambil jalan memotong ke Ijen. Jalannya menanjak terus menembus perbukitan, dan kondisi jalan cukup parah sampai ke Belawan, Sempol. Tak terbayang kalau kami nekat ngeluyur sendiri ke sini. Mau naik apa coba? Apalagi sampai di Belawan hari sudah menjelang malam.

Belawan merupakan desa terakhir sebelum titik awal pendakian ke Kawah Ijen. Di sini terdapat perkebunan kopi yang sudah ada sejak zaman Belanda. Itu sebabnya di Jawa Timur sangat terkenal yang namanya kopi Belawan. Sebuah rumah dinas kepala perkebunan di zaman belanda yang terletak di dalam area pabrik kopi, saat ini telah berubah fungsi menjadi homestay bagi para pengunjung yang akan mendaki ke Ijen. Bernama Catimore (di bagian dalam papan namanya tertulis Catimor), homestay ini selalu dipenuhi para turis asing. Malam itu saja, sempat terjadi keributan karena sebuah agen perjalanan yang merasa sudah memesan kamar dan membayar untuk biaya menginap belasan turis, ternyata menemukan kamar-kamar tersebut sudah penuh terisi.

Catimore Homestay

Catimore Homestay

Catimore memang masih menerapkan manajemen yang tradisional, sehingga tidak ada sistem booking yang jelas. Saya sempat bertanya kenapa tempat wisata seramai ini tidak punya banyak hotel atau penginapan. Rupanya menurut Mas Faiz, izin mendirikan penginapan sangat sulit karena wilayah ini dikelola perkebunan. Kami sih menikmati saja keramaian itu, sekalian foto-foto tentunya! Setelah makan malam nasi goreng di Catimore, akhirnya Mas Faiz mendapat satu kamar di rumah penduduk sekitar situ, yang memang banyak dialihfungsikan sebagai penginapan.

Karena sudah banyak mendengar tentang beratnya medan pendakian ke Kawah Ijen, saya yang dari kemarin kepayahan memutuskan untuk tidur cepat guna menyimpan tenaga. Jam 9 malam saya sudah terlelap di kamar yang cukup nyaman dengan kasur busa dan selimut tebal. Sementara di Catimore, turis-turis asing masih asyik mengobrol, minum bir, dan berendam air panas.

Jam 12 malam, Eko membangunkan saya, katanya ada briefing untuk yang mau mendaki besok. Saya menggerutu. Ngapain sih pakai briefing segala? Memangnya mau mendaki Jayawijaya apa? Saya meminta Eko saja yang keluar mewakili saya. Tapi Eko memaksa dan katanya semua orang sudah ngumpul di luar.

So Sweeeet

So Sweeeet

Akhirnya dengan malas-malasan saya keluar kamar, ke beranda rumah, dan…….eng ing eng…lantai dan pagar kayu di beranda penuh dengan lilin-lilin kecil menyala. Di meja, sebuah kue ulang tahun cokelat tergeletak dengan manis. Saya langsung melongo. Ternyata di Malang, suami saya sudah janjian dengan Mas Faiz untuk membuat kejutan ini, karena tanggal 8 Agustus bertepatan dengan milad saya yang ke-33. Dan dengan bantuan Pak Luki, pemilik rumah, acara kejutan ini berlangsung sukses. Huhuhuhuhu….terharu bo! Bener-bener nggak nyangka suami saya bisa seromantis itu … kebayang susahnya bawa kue ulang tahun sepanjang jalan tanpa sepengetahuan saya dan tetap bagus pula bentuknya. Hiks … thank you soooo much my love!!!!!!!

Setelah tidur lagi, jam setengah empat pagi kami berangkat. Semua mobil harus berhenti di Paltuding, titik awal pendakian ke Kawah Ijen. Huuuaaaahhhh….ternyata medannya sungguh berat buat saya yang kelebihan berat badan ini! Kami harus mendaki 3 kilometer untuk sampai ke puncak. Memang jalurnya sudah rapi, tinggal diikuti saja, tidak liar seperti di Sempu. Tapi….di beberapa tempat kemiringannya nyaris 90 derajat!

Perjuangan menuju puncak

Perjuangan menuju puncak

Baiklah, dengan perlahan-lahan (dan sering-sering berhenti), saya mulai menapak. Berkali-kali rombongan kami disalip turis-turis asing yang kelihatannya ringan saja melangkah. Ada yang membawa anak-anak pula. Bahkan ada ibu-ibu Jepang, separuh baya, santai sekali berjalan dengan blus tipisnya dan tas bahunya (bukan ransel). Kayak mau jalan-jalan ke pasar saja dia! Tapi….saya nggak sendirian kok. Banyak juga yang kepayahan seperti saya. Asyik kannnn hehehehe.

Untunglah di 700 meter terakhir, jalan mulai melandai, dan pemandangan yang tersuguh di depan mata luar biasa memesona! Saya langsung melupakan kelelahan saya.

Dan begitu sampai di puncak….Subhanallah! Tebing-tebing  putih menjulang megah, dan di tengah-tengahnya, kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan bergeming dalam keheningan jutaan tahunnya. Sungguh bersyukur saya bisa melewatkan berkurangnya umur di tempat seindah ini.

Alhamdulillah...sampai!

Alhamdulillah…sampai!

Kalau sering membaca tentang Ijen, pasti tahu tentang bapak-bapak pengangkut belerang yang turun-naik dengan memanggul beban puluhan kilo, dan hanya dibayar 500 rupiah per kilonya!  Saat itu saya menyaksikan sendiri kerja keras mereka yang membuat dada ini terasa sesak. Apalagi, sebagian dari mereka tampak tulus menebar senyum dan menyapa kami. Seandainya saya jadi mereka, barangkali saya sudah lupa cara untuk tersenyum.

Mungkin karena tahu kalau mereka dijadikan obyek wisata, bapak-bapak ini biasanya minta uang jika ada turis yang ingin memotret atau berfoto bersama mereka. Dan menurut saya wajar saja lah… karena di brosur-brosur wisata, salah satu point of interest adalah menyaksikan para pengangkut belerang bekerja! Kalau mereka dapat kompensasi sih nggak apa-apa, tapi saya nggak yakin….jadi di pagi itu saya sempatkan untuk berdoa, supaya anak-anak mereka nantinya bisa membebaskan mereka dari kemiskinan ini. Amiin.

Bapak pengangkut belerang

Bapak pengangkut belerang

Perjalanan turun tentunya tidak seberat pendakian. Cuma harus kuat-kuat mengerem dengan paha dan dengkul, biar nggak nggelinding ke bawah🙂

Setelah Ijen, liburan berat (namun berkesan) kami  pun berakhir. Mas Faiz dkk mengantar kami ke hotel di Surabaya, karena besoknya, tanggal 9 Agustus malam, kami harus mengejar pesawat ke Jakarta.

Di Surabaya sempat-sempatin mampir ke Museum Sampoerna dan  Jembatan Suramadu

Di Surabaya sempat-sempatin mampir ke Museum Sampoerna dan Jembatan Suramadu

Dalam perjalanan, saya berkali-kali mengucap syukur kepada Allah, karena telah memberi kesempatan untuk menikmati mahakarya-Nya. Semoga saja, tahun depan kami bisa travelling lagi ke tempat-tempat lain di Indonesia yang tidak kalah cantiknya.

INFO 

Buat teman-teman yang ingin wisata ke Malang-Bromo dan Kawah Ijen, ini nomor kontaknya:

Bu Mulyadi : 0856-46479409 / 0341-2133313

Faiz Safari Travel : 0341-9188554
Malang – Ijen – Surabaya : Sepanjang perjalanan bisa kok minta mampir ke obyek wisata mana pun yang terletak di sepanjang jalur ini. Kami sebenarnya  ditawarin, tapi udah capek hehehehe

Semoga bermanfaat🙂

Agustus 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s