Sepuluh Hal Penting Saat Menerjemahkan Fiksi

Berkaca dari pengalaman saya beberapa waktu lalu, pengalaman yang bikin saya cukup panas-dingin karena baru pertama kali merasakan ‘berhadapan langsung’ dengan penulis yang bukunya saya terjemahkan, sepuluh poin yang dipaparkan John McGlynn dari Yayasan Lontar dalam seminar On the Road to Frankfurt: How Translations Travel yang berlangsung tanggal 24 Maret lalu di Gedung Kompas Gramedia menurut saya layak dicatat (Duh, panjang sekali kalimat ini. Tolong diedit :D)

Berikut kesepuluh hal penting tersebut:

Translate, write and rewrite — Menerjemahkan, menurut saya, bisa dibilang sama dengan menulis ulang. Itu sebabnya terjemahan fiksi yang harfiah tentu tidak enak dibaca, karena…

Pay respect to original but honor the target language — Penerjemah wajib menghormati bahasa asli tapi juga harus menghargai bahasa target. Usahakan agar naskah yang kita terjemahkan bisa terbaca seolah-olah ditulis oleh orang Indonesia sendiri, bukan disadur dari naskah asing. Hargai pula panduan-panduan yang kita miliki sebagai penerjemah bahasa Indonesia, misalnya KBBI. Tentunya dengan tetap mengindahkan ‘suasana’ yang dibangun penulis dalam novel asli.

Continue reading

Sepatu Aladin

Setiap kali melihat model sepatu kulit yang bagian depannya lancip dan agak mencuat, suami saya pasti langsung cengar-cengir sambil menyeletuk, “Nggak bakal deh pakai sepatu kayak begitu.” Alhasil kalau mesti memakai sepatu resmi (karena sehari-hari dia ke kantor dengan sepatu keds), suami saya akan memilih model sepatu yang bagian depannya bulat atau kotak. Saya pikir dia hanya tidak suka modelnya, yang menurut saya memang agak aneh, walaupun saya lihat banyak juga kaum pria yang suka dan nyaman memakainya. Tapi ternyata ada cerita di balik ketidaksukaannya itu.

Waktu kuliah di Semarang dulu, suami saya pernah dibelikan sepatu oleh ibunya di pasar. Sepatu kulit sintetis berujung lancip yang harganya murah meriah. Waktu masih baru sih si sepatu baik-baik saja, dan suami saya yang saat itu memang suka dengan model sepatu rapi menerimanya dengan senang hati. Ya jelas senang lah, karena sebelum itu dia terpaksa memakai sepatu salah seorang teman yang berbaik hati memberikan sepatunya yang sudah dipensiunkan. Sepatu suami saya sendiri sudah lama jebol. Continue reading