“Creativity is Great, Dear”

Aku mengintip dari balik layar di panggung Minack Theater. Deretan bangku untuk kapasitas 750 penonton hampir seluruhnya terisi. Jantungku berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari dada. Kulayangkan pandangan ke para pemain yang sedang bersiap-siap mementaskan lakon Karno Tanding, salah satu episode paling dramatis dalam kisah Perang Bharatayudha. Sampai detik ini aku masih saja tersenyum lebar setiap kali melihat sosok-sosok berkulit putih dengan rambut pirang, cokelat, atau merah itu mengenakan kostum wayang nan anggun. Mereka begitu antusias memerankan tokoh Arjuna, Kurawa, Abimanyu, Bhisma, dan lain-lain. Bahkan mereka ingin sekali mementaskannya dalam bahasa Jawa. Tapi menurutku sebaiknya menggunakan bahasa Inggris dulu. Pelan-pelan. Bagaimanapun, teater terbuka yang dibangun di tebing Porthcurno, Cornwall ini belum pernah menampilkan cerita dari Indonesia, bahkan Asia. Kembali kukirimkan ungkapan kekaguman tanpa suara untuk Rowena Cade, perempuan dengan tekad baja yang merencanakan dan membangun sendiri teater spektakuler ini. Lalu pandanganku beralih ke charm bracelet yang tak pernah absen melingkari pergelangan tangan kananku. Gelang pemberian lelaki istimewa yang selalu menyemangatiku dengan kata-kata, “Creativity is great, dear.”

Minack Theater, Cornwall

Minack Theater, Cornwall

***

Hamparan bunga krokus di Kew Gardens, London, bagaikan bentangan karpet ungu yang tebal dan empuk. Andai tidak ada pengunjung lain, mungkin aku sudah melemparkan tubuh dan berguling-guling di sana. Karena masih punya urat malu, aku hanya berjongkok dan memeluk bunga-bunga yang mekar sembari menghirup wanginya dalam-dalam. Setelah beberapa detik dalam posisi itu, aku merasakan sepasang mata memperhatikanku. Dengan enggan aku menengadah dan melihat seorang lelaki menatapku dengan mata yang menyorotkan ekspresi geli. Aku merengut. Huh, mengganggu saja orang ini. Dengan kesal aku memelototinya. Dia mengangkat tangan tanda menyerah sambil tertawa renyah. “Maaf, maaf, tidak bermaksud mengganggu. Tapi jujur saja, sejak dulu aku ingin sekali bergulingan di karpet krokus ini, kalau tidak khawatir ditegur petugas.” Mau tak mau aku membalas tawanya dengan senyuman setengah hati. Dia mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya, Adrian. Sebagai tanda perdamaian, dia mengajakku mencicipi carrot cake dan lemon drizzle cake di kafe Victoria Plaza yang menurutnya luar biasa enak. Aku sempat ragu karena aku tak kenal lelaki ini, meskipun dia lumayan… ehem… ganteng. Tapi sikap santai dan binar ramah matanya membuatku akhirnya mengikuti langkah-langkah lebarnya menuju kafe yang terletak di dekat gerbang Kew Gardens itu.

Treetop Walkway, Kew Gardens, London

Treetop Walkway, Kew Gardens, London

Setelah menikmati kue-kue yang memang sedap itu, kami kembali menyusuri taman luas yang semarak dengan warna-warni musim semi. Saat menapaki treetop walkway, kami sudah berbagi begitu banyak cerita rasanya seakan-akan kami sudah lama saling kenal. Adrian yang baru memulai karir sebagai penulis perjalanan untuk beberapa majalah, mengungkapkan kecintaannya pada alam dan impiannya menyambangi hutan-hutan di Indonesia. Aku yang sedang belajar di London Academy of Music and Dramatic Arts dengan malu-malu mengutarakan hasratku untuk mementaskan lakon wayang di salah satu panggung teater di Inggris. Kami berbagi kisah, berdebat, tertawa, sampai tanpa sadar jam demi jam telah berlalu sejak pertemuan awal kami. Petang itu kami berpisah dengan janji untuk bertemu lagi di lain waktu.

Minggu berganti bulan. Pertemanan kami semakin akrab dan Adrian menjadi ensiklopedia berjalanku di Inggris, membuat masa tinggalku di sana tak lagi terasa sunyi. Dan pada hari ulang tahunku, Adrian memberi kejutan dengan mengajakku ke Minack Theater di Cornwall. Aku nyaris tak bisa bersuara saat pertama kali menatap pemandangan menakjubkan itu. Kuremas tangannya sambil berbisik, “Aku ingin sekali suatu hari nanti drama karanganku bisa dipentaskan di sini.”

Adrian balas meremas tanganku dan berkata, “Tidak ada yang tidak mungkin.”

Aku menggeleng-geleng. “Itu impian yang terlalu muluk. Mana mungkin mereka menyukai kisah yang belum pernah mereka dengar?”

“Cerita wayang yang epik dan dramatis, diperankan aktor dan artis Inggris, perpaduan sempurna Barat dan Timur? Creativity is great, dear. They’ll love it. And I have loved it already.

Thanks, Ade,” ucapku penuh terima kasih.

Adrian tidak main-main. Melalui teman dari teman dari temannya yang mengenal sejumlah orang penting di teater tersebut, aku mulai merintis jalan untuk menampilkan drama karanganku di sana. Tepatnya, drama yang kutulis ulang dari lakon yang sudah amat terkenal. Aku berhasil mendapatkan waktu untuk mempresentasikan ideku di hadapan dewan pengelola teater, berusaha keras meyakinkan mereka bahwa lakon yang kupilih memiliki pesan-pesan universal yang dapat diterima semua orang dari seluruh belahan dunia.

Minggu demi minggu berlalu. Tak ada kabar apa pun dari Minack Theater. Aku mulai pasrah walaupun sesungguhnya amat kecewa. Apalagi pada saat yang sama, Adrian memperoleh kesempatan yang telah lama dinantikannya. Menuliskan perjalanan menyusuri hutan Amazon. “Bukan hutan Kalimantan, tapi ini permulaan,” katanya antusias. Aku ikut senang dan amat bangga padanya. Sungguh. Tapi mau tak mau kembali terbayang hari-hari sunyi yang menantiku di depan sana.

Sebagai perjalanan perpisahan, Adrian mengajakku ke Durdle Door di Dorset yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari London. Seraya menunjuk karang berlubang yang menyerupai pintu itu, dia berkata, “Aku senang membayangkan pintu itu bisa membawaku ke mana saja dalam sekejap. Kau tinggal mendayung perahu melewatinya dan langsung bergabung denganku di Amazon.” Aku tertawa dan memeluknya. Adrian memasangkan charm bracelet di tanganku. “Ingat aku selalu,” bisiknya. Pasti, kau tak perlu minta, kataku dalam hati.

Durdle Door, Dorset

Durdle Door, Dorset

Tiga minggu kemudian, pada hari yang sama, datang dua surel yang sama-sama mengguncang duniaku. Dewan pengelola Minack Theatre menyetujui ideku dan memintaku segera memulai persiapan pementasan Karno Tanding. Surel kedua berasal dari keluarga Adrian yang menyampaikan berita duka bahwa putra, adik, dan cucu mereka, Adrian Treadwell, terjangkit malaria di Amazon dan sayangnya tidak segera mendapatkan penanganan yang memadai sehingga…

Aku tak sanggup membaca lagi. Aku tak tahu harus terisak atau tertawa. Aku tak yakin harus bersyukur atau mengutuk. Aku menyalahkan dunia. Aku menyalahkan diriku. Aku menyalahkan Tuhan.

Aku menangis.

Dan menangis.

Dan menangis.

Hari demi hari.

Sampai suatu hari, saat terlelap dalam tidur yang gelisah, aku mendengar bandul-bandul di gelangku berdenting. Mungkin karena gerakan tanganku, mungkin karena tertiup angin, atau mungkin itu cara Adrian menegurku dan memaksaku bangkit kembali.

***

Kuusap air mata yang menitik di sudut mata. Kulayangkan pandangan ke deretan bangku yang kini sudah terisi penuh. Kuguncangkan charm bracelet di tangan hingga terdengar dentingnya yang menenangkan. Dan aku seolah mendengar suara lembut Adrian berbisik di telingaku, “Break a leg, dear.

I will, Ade. Thank you.

Lampu-lampu dipadamkan. Mungkin di Dorset sana, Adrian sedang mendayung perahu melewati Durdle Door untuk menyaksikan pementasan karya pertamaku.

Tokoh favorit di Game of Thrones: Daenerys Targaryen
Dia contoh sempurna orang yang tak kenal kata menyerah. Meskipun awalnya terkesan lemah, naif, dan tak punya kekuatan apa pun, namun tempaan hidup yang berat malah membuatnya semakin tegar dan kuat. Bahkan dia berhasil menghimpun ribuan prajurit dari nol. Ditambah lagi, dia satu-satunya penguasa naga yang masih hidup. Tak ada yang bisa mengalahkan perempuan perkasa ini kecuali kematian itu sendiri.

Diikutsertakan dalam kompetisi “Creativity is Great” dari Fantasious dan British Embassy Jakarta.
11062328_408576239316292_6780605576101539947_n

Advertisements

Mengejar Enid

 

enid-blyton-10

Enid Blyton bersama mesin tiknya yang selalu menemani

Seperti banyak orang seumurku, masa kecilku tak lepas dari buku-buku Enid Blyton yang begitu berlimpah. Sepanjang hidupnya, Enid Blyton menulis 700 buku dan sekitar 4500 cerita untuk anak-anak. Sampai sekarang, aku dan sahabatku Bridget, yang tinggal di London, tak pernah bosan membicarakan kisah-kisah karangan Enid setiap kali kami mengobrol jarak jauh. Namun belakangan ini, obrolan kami menghangat lantaran kami mendengar selentingan bahwa Enid pernah menulis novel dewasa namun tidak pernah dipublikasikan dan keberadaan naskah tersebut tidak diketahui. Enid Blyton? Yang tak pernah memedulikan komentar orang dewasa mengenai buku-bukunya? Yang menganggap kritik dari orang di atas usia 12 tahun tak layak didengar? Selentingan itu sungguh mengusik rasa penasaran kami. Bukan karena kami ingin merusak citra Enid sebagai penulis kecintaan anak-anak, namun kami ingin membuktikan bahwa Enid bisa menulis dengan diksi dan plot yang lebih kompleks, untuk membantah hujatan banyak orang bahwa tulisan Enid terlalu sederhana dan mudah ditebak. Apalagi, kabarnya dalam novel itu Enid menyisipkan kisah hidupnya sebagai ibu dari Gillian dan Imogen. Mungkin akhirnya para penggemar Enid bisa tahu, benarkah ia ibu yang buruk dan hanya mencintai anak-anak dalam dunia khayalnya tapi tidak menyukai mereka di dunia nyata?

***

Pukul 4 sore itu aku menerima pesan WhatsApp dari Bridget. Coba tebak, tulisnya. Aku dapat e-mail dari seorang anggota Enid Blyton Society. Dia bersedia menemuiku besok!!! Aku langsung terjaga penuh. Sudah beberapa lama kami menyurati perkumpulan rahasia dan tertutup itu, menanyakan benar-tidaknya selentingan tentang novel dewasa Enid. Tapi mereka tak pernah menanggapi surat kami. Kami maklum jika mereka terkesan menutup-nutupi, karena mereka tentu ingin menjaga ‘kemurnian’ Enid Blyton sebagai penulis buku anak-anak.

Akhirnya!!! balasku penuh semangat. Di mana kalian akan bertemu?

Dia minta bertemu di Upper Deck. Dia hati-hati banget, enggak mau nyebut nama. Cuma Fatty, Bridget membalas lagi.

Fatty…seperti Fatty di serial Pasukan Mau Tahu? Itu salah satu serial karangan Enid.

Yup, aku yakin begitu, jawab Bridget.

Kau harus ceritakan semuanya padaku besok, ketikku cepat-cepat.

Pasti! Kalau perlu, kurekam semua buatmu, balas Bridget lalu menambahkan ikon senyum.

Upper Deck @ HMS Belfast

Upper Deck @ HMS Belfast

Esok harinya, aku tidak konsentrasi mengerjakan apa pun. Aku tak sabar menunggu laporan dari Bridget. Pukul 4 sore, sekitar pukul 10 pagi di London, ponselku berbunyi menandakan masuknya pesan WhatsApp. Dari Bridget.

Aneh banget! tulisnya.

Kenapa?

Barusan aku ke sini. Dia mengirim foto, yang langsung kubuka. Upper Deck Bar and Cafe, yang terletak di kapal museum HMS Belfast, dengan pemandangan ke Tower Bridge, Tower of London dan City Hall. Fatty cuma meninggalkan pesan untukku, yang dititipkan ke salah seorang pelayan. Sepertinya dia benar-benar tak mau kita tahu jati dirinya.

Kau tahu sendiri perkumpulan mereka sangat tertutup. Mungkin Fatty bertindak tanpa sepengetahuan anggota lain, balasku.

Mungkin
, sahut Bridget. Aku cari tempat dulu untuk baca pesan ini. Sebentar lagi kukontak.

Camden Passage, Islington

Camden Passage, Islington

Hei, panggil Bridget setengah jam kemudian.

Kamu di mana? tanyaku.

Dia mengirim foto lagi. Aku di kafe di Camden Passage, pasar barang antik. Kamu pasti suka banget di sini. Aku mengomentari fotonya yang keren. Oke, kembali ke topik. Ini aneh banget. Pesannya malah kayak puisi, tulis Bridget.

Oh, ya? Coba kaubacakan. Sesaat kemudian aku mendengarkan pesan suara dari Bridget, yang membacakan dua bait puisi berima. Setelah selesai, terdengar bunyi kriuk-kriuk yang sudah tak asing. Bridget, kamu pasti ngemil keripik kentang lagi, ketikku disertai ikon tertawa.

Kami pernah membicarakan betapa orang Inggris begitu tergila-gila pada keripik kentang, atau potato crisp istilah mereka. Meskipun berasal dari Amerika, namun hanya di Inggris kita bisa menemukan kemasan keripik kentang dalam berbagai ukuran dan rasa di hampir semua tempat ‘jualan’ yang bisa terpikirkan. Dan variasi rasanya luar biasa sinting, menurutku, yang diamini Bridget dengan sepenuh hati.

Hari ini kau makan yang rasa apa? tanyaku.

Jalapeno & coriander, sahutnya. Aku juga beli yang rasa pickled onion untuk nanti.

Cabai dan ketumbar? Acar bawang? Sinting! tulisku.

Memang 😀 , dia membalas. Oke, jadi apa menurutmu arti pesan Fatty?

 

Pesannya berbunyi seperti ini:
Di tempat mata dapat melihat
Jauh sampai ke Kastel Windsor
Ia berputar tak terlalu cepat
Bila kau takut tinggi, bersiaplah untuk gemetar

Malam belum lagi datang
Namun siang telah menghilang
Sebelum lima aku berada
Mudahnya bagai dua dikali dua

 

Kurasa itu lokasi dan waktu pertemuan berikutnya, tulisku. Bait kedua cukup mudah. Sebelum lima dan hasil perkalian 2×2, jelas 4. Sebelum malam dan sesudah siang, jelas sore. Jadi jam 4 sore.

Bridget langsung membalas, Aku setuju! Tinggal memecahkan pesan di bait pertama. Kita pikirkan bareng ya. Sekarang aku harus bertemu teman dulu di The Savoy, katanya.

Woow…fancy! 😉 godaku.

Yang fancy temanku, aku cuma numpang ngemil heheheketiknya.

Aku langsung membayangkan The Savoy dari foto-foto yang pernah kulihat. Seratus dua puluh tahun setelah hotel itu pertama kali memukau London dengan kemewahan dan keindahannya, The Savoy kini dibuka kembali setelah menjalani restorasi paling ambisius dalam sejarah Inggris. Kubayangkan Bridget dijamu temannya dengan penganan lezat seperti scone panas berlumur mentega, pai daging, cake buah, salad telur, kentang dengan mentega dan taburan parsley… hmm, itu sih deskripsi makanan di buku-buku Enid Blyton, pikirku sambil tertawa.

Pukul 6.30 malam atau pukul 12.30 siang di London, Bridget kembali mengirim pesan WhatsAppKali ini berupa foto disertai tulisan Lihat, lihat. Cepat lihat!!!

Aku membuka foto itu dan melihat interior The Savoy yang nyaman dan elegan.

The Savoy Hotel

The Savoy Hotel

Iyaa bagus hotelnya, ketikku, agak bingung mengapa Bridget begitu bersemangat menunjukkan foto tersebut.

Bukan hotelnya, lihat ke luar jendela, balasnya cepat.

London Eye? tanyaku.

Ingat bait pertama? Di tempat mata dapat melihat. London Eye, mata London. Kalau hari cerah, kita bisa melihat sampai sejauh Kastel Windsor. Dan memang tidak cepat, pergerakannya hanya 26 cm per detik. Tapi kalau takut ketinggian, sudah pasti bakal gemetar,  tulis Bridget panjang lebar.

Aku menyeringai senang. Brilian, Bridget! pujiku. Tapi masih cukup lama sebelum jam 4 sore.

Iya, aku bisa jalan-jalan di Trafalgar dulu sebentar, sekalian mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti, sahutnya.

Trafalgar Square

Trafalgar Square

Bridget kembali mengirimiku foto Trafalgar Square, yang tak pernah bosan kulihat. Di pusat ruang publik yang terletak di City of Westminster ini, terdapat Nelson’s Column yang dijaga empat patung singa di dasarnya. Selain menjadi tempat berkumpul warga dalam acara besar seperti perayaan Tahun Baru, alun-alun ini juga kerap digunakan sebagai tempat menggelar demonstrasi politik.

Pasti kau makan keripik kentang lagi deh, tuduhku sambil terkekeh, yang dibenarkan oleh Bridget. Tentu saja dia tak bisa mendengarku terkekeh 😀

Harus, persiapan untuk pertemuan penting, kilahnya sambil menunjukkan varian rasa aneh lagi. Chardonnay wine vinegar dan aloo masala (masakan kari sayur dari India). Aku menggeleng-geleng geli.

Kami mengobrol ke sana kemari untuk menghabiskan waktu, termasuk tentang keinginanku memborong semua varian rasa keripik kentang yang aneh-aneh itu bila berkesempatan pergi ke Inggris. Cari yang halal, tentu saja 🙂

Pemandangan dari kapsul London Eye

Pemandangan dari kapsul London Eye

Pukul 11 malam atau pukul 5 sore di London, Bridget melaporkan bahwa sama sekali tidak ada yang mendatanginya di area London Eye. Tadinya kami mengira, Fatty sengaja memperhatikan dari jauh saat Bridget datang ke Upper Deck, untuk mengetahui seperti apa rupa sahabatku itu.  Lalu dia baru akan menemui Bridget di London Eye. Tapi lewat satu jam dari waktu yang ditentukan, tak ada siapa pun yang menghampiri Bridget. Maka dia berinisiatif menaiki ferris wheel raksasa itu, dengan harapan dapat menemukan petunjuk di atas sana. Dan seperti biasa, dia mengirimkan foto untukku.

Mungkin Fatty benar-benar ingin memastikan kita serius. Dia sengaja mengawasi dulu, ingin melihat apakah kita mampu memecahkan pesannya, kataku menghibur diri, sekaligus menghibur sahabatku.

Mungkin, sahut Bridget. Meskipun hanya berbalas tulisan, aku merasa bisa mendengar nada kecewa. Aku pun pasti akan kecewa, apalagi dia sudah berkeliling London sejak pagi. Atau mungkin kita salah mengartikan pesan Fattysambungnya.

Aku tercenung, kemungkinan itu tak terpikirkan olehku.

Beberapa saat kemudian, Bridget kembali mengirim pesan. Uci, ternyata kita benar datang ke sini. Petugas penjual karcis mendatangiku setelah aku turun. Ada pesan lagi dari Fatty!!

Bacakan!! ketikku tak sabar.

 

Ini bunyi pesannya:
Aku masih berdiri, aku masih terpelihara
Tak sampai dua jam dari ibukota
Enid memakai namaku untuk salah satu bukunya
Karena aku membuatnya begitu bahagia

 

Baiklah, aku mesti cari tempat yang tenang dulu. Nanti aku kontak lagi, tulis Bridget setelah mengirimkan pesan suara tadi.

Bridget, jangan lupa makan. Kau sudah berkeliaran dari pagi, aku menasihati. Aku pun mulai lapar dan agak capek karena terus-menerus tegang menunggu laporan Bridget.

Pasti! Kau juga ya. Sekarang pasti sudah larut di Jakartabalas Bridget.

Daunt Books, Marylebone

Daunt Books, Marylebone

Pukul 1 pagi atau pukul 7 malam waktu London, Bridget mengirimkan foto Daunt Books, salah satu toko buku paling cantik di London, dengan rak-rak panjang dari kayu ek dan kaca atap yang anggun.

Kupikir yang dimaksud Fatty adalah judul salah satu buku Enid, tulis Bridget memulai percakapan. Enid selalu memasukkan tempat-tempat dan pengalaman-pengalaman nyata dalam hidupnya sebagai inspirasi buku-bukunya.

Aku setuju, sahutku. Coba kita ingat-ingat buku Enid yang judulnya menggunakan nama tempat. Dan harus tempat yang membuat Enid bahagia, kataku lagi. Aku yakin di sanalah Enid menyimpan naskah novel dewasanya yang tak pernah diketahui orang. 

Setelah berdiskusi, kami sepakat ada satu tempat yang mungkin dimaksudkan Fatty dalam pesannya. Kastel Corfe di Dorset, tempat yang selalu didatangi Enid untuk berlibur dan menjadi inspirasi untuk Kastel Kirrin dalam serial Lima Sekawan. Dorset bahkan sudah dianggap sebagai “desa-nya Enid Blyton”.

Jalur kereta api Swanage dengan Kastel Corfe di latar belakang

Jalur kereta api Swanage dengan Kastel Corfe di latar belakang

Tapi, perjalanan dari London ke Dorset lebih dari dua jam, baik naik kereta maupun mobil, tulis Bridget beberapa saat kemudian. Aku rasa bukan itu.
 
Bridget, ada bagian khusus koleksi buku Enid di Daunt Books? tanyaku.

Ada, aku dari tadi berdiri di depannya, sahut Bridget.

Seingatku ada satu tempat yang pernah menjadi rumah Enid tahun 1920-an, aku mengetik. Enid sangat bahagia di sana, bahkan menyebutnya rumah negeri dongeng dan menuliskannya ke dalam buku dengan judul sama. Kalau tak salah, rumah itu masih terpelihara rapi sampai sekarang. Old  Tect? Old Tacht? kataku menebak-nebak.

Oh, kau benar!! balas Bridget. Old Thatch Gardens, di Buckinghamshire. Hanya satu jam lebih sedikit dari London, dan aku seolah kembali mendengar semangat yang meluap-luap dari tulisannya.

Old Thatch Gardens, Buckinghamshire

Old Thatch Gardens, Buckinghamshire

Lalu, satu jam kemudian, aku mendapat pesan yang mengejutkan dari Bridget. Setelah mengambil buku yang dimaksud dari rak, Bridget meninggalkannya di meja baca untuk pergi ke toilet. Ketika dia kembali, seseorang telah meninggalkan pesan yang diselipkan di balik sampul. Pesan itu berbunyi: Bagus sekali! Kau sudah menebak dengan benar semua pesanku. Aku terkesan. Tapi sebelum berangkat ke Old Thatch, pastikan dulu tempat itu masih ada.  –Fatty-

Bridget kaget bukan kepalang. Dia sama sekali tak menyangka Fatty membuntutinya sejak dari London Eye. Terlebih lagi, dia sangat yakin Old Thatch masih berdiri dan masih menjadi tujuan wisata walaupun memang tidak setiap hari buka, karena tempat itu sebenarnya milik pribadi. Apa maksud pesan Fatty?

Tanpa membuang waktu, Bridget menelepon teman-teman dan kenalannya yang kemungkinan mengetahui status rumah bersejarah tersebut, atau bisa membantunya menghubungi pihak yang kompeten. Karena sudah malam, Bridget tidak mungkin menghubungi nomor telepon resmi Old Thatch Gardens. Dan jawaban yang diterimanya sungguh tak terduga. Pondok Old Thatch yang cantik ternyata sudah dijual oleh pemiliknya, dan dua bulan lagi akan dirobohkan, entah untuk apa. Kami cemas nasibnya akan sama seperti rumah Enid lain yang ditempati hingga menjelang akhir hayatnya, Green Hedges, yang kini dijadikan area perumahan dan hanya menyisakan sebentang jalan bernama Blyton Close sebagai pengingat.

Uci, kau harus segera ke sini, pinta Bridget dan aku seolah mendengar nada putus asa dalam tulisannya. Aku tak mungkin melanjutkan pencarian ini sendirian 😥 Kalau kita tak segera bergerak, warisan terakhir Enid Blyton akan lenyap dari muka bumi, dan untuk selamanya dia akan dikenal sebagai ibu yang jahat, nightmare mother!

Aku termenung muram. Kelelahan yang sejak tadi tak kurasakan mendadak menyerbu dan membuatku terduduk lemas. Bagaimana caranya aku bisa menemui Bridget di London? Dengan tabungan yang kumiliki saat ini, rasanya mustahil aku bisa segera berangkat ke sana. Apa yang harus kulakukan?

Lalu pandangan mataku tertuju ke tumpukan camilan di meja. Aku memang bukan orang Inggris, tapi soal tergila-gila pada keripik kentang, rasanya aku sama saja dengan Bridget. Dan ide pun itu melintas di benakku, membuatku kembali tersenyum. Keripik kentang telah menyatukan kami, keripik kentang pula yang kuharap dapat membawaku ke Inggris. Mengejar Enid, menyelamatkan warisannya bersama sahabatku. Kuambil bungkus-bungkus camilan itu dan berpose di depan koleksi buku Enid Blyton kesayanganku. Lalu aku menulis pesan untuk Bridget.

Bridget, tunggu aku…. Kuklik tombol send disertai doa dan harapan….

 

photo0495

Diikutsertakan untuk Blog Contest “Ngemil Eksis Pergi ke Inggris”
Ngemil Eksis ke Inggris