Giveaway Wadah Pensil Warna

art case2

Melihat blog ini nyaris diselimuti debu saking lamanya tidak diisi (postingan terakhir 25 Maret sodara-sodara!), akhirnya di Minggu pagi menjelang siang ini saya memutuskan untuk menggelar sayembara berhadiah. Kebetulan sekarang saya lagi suka jahit-menjahit (telat banget yaa… ke mana aja selama ini), jadi lagi sering-sering latihan bikin ini-itu. Dan gilanya, saya punya teman-teman baik hati yang ‘nekat’ memercayai saya dan memesan jahitan dari saya, di tahap yang masih amat sangat amatir ini. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, teman-teman. Pesanan kalian membuat saya jadi punya alasan untuk mencoba-coba proyek baru, dan membuat mesin jahitnya terpakai terus. Supaya seseorang (baca: suami tercinta), nggak punya alasan untuk bilang “Tuh kan,” saat melihat mesin jahitnya nganggur, soalnya dia sempat ragu waktu saya bilang mau beli mesin jahit. “Yakin 6 bulan kemudian kamu nggak bosan?” Nah kan jadi ngelantur 😀

Baiklah, giveaway kali ini adalah salah satu hasil jahitan saya, proyek sederhana berupa wadah pensil warna (atau spidol, krayon, bolpoin, bebas deh). Terinspirasi dari maraknya buku mewarnai untuk dewasa yang sekarang lagi digemari banyak orang itu. Tapi karena masih amatir, mohon maklum kalau masih ada jahitan yang miring-miring atau agak meleset sana-sini hehehe. Yang jelas, wadahnya bisa dipakai kok, sudah saya buktikan 😀

art case1

Bagaimana cara mendapatkannya? Gampang sekali. Di kolom komentar, silakan tebak berapa jumlah slot untuk pensil warna yang ada di wadah ini, beserta alasan kenapa menginginkan si wadah. Kalau yang menjawab benar banyak (untuk tebakannya), saya pilih yang pertama. Kalau tidak ada yang benar, saya pilih yang paling mendekati. Kalau yang paling mendekati banyak, saya undi. Peserta harus beralamat di Indonesia ya. Tuliskan juga akun Facebook, Path atau twitter supaya mudah dihubungi jika menang.

Jawaban saya tunggu sampai hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015.
Selamat menebak dan semoga beruntung 🙂

Advertisements

Hasil Survei Novel Terjemahan

577317_10202043530077978_841476683_n

Alhamdulillah, selesai juga merekap hasil survei novel terjemahan yang diluncurkan beberapa waktu lalu. (Kayak berat banget ya usahanya. Padahal mah… emang lumayan 😀 ) Penasaran? Kepingin tahu hasilnya? Silakan dibaca ringkasannya berikut ini. Jangan bosan ya, karena banyak sekali masukan, saran, dan kritik yang bagus untuk para penerjemah.

Jumlah Responden: 100

Q1 Seberapa sering membaca novel terjemahan?
Jarang (15)
Kadang-kadang (24)
Sering (61)

Q2 Apa yang disukai dari novel terjemahan?
1. Jawaban terbanyak: karena memang menyukai novel aslinya / lebih menyukai novel karangan penulis luar dalam hal tema, ide cerita, penokohan, gaya bahasa, dll.
2. Masih berkaitan dengan alasan pertama, novel terjemahan disukai karena dapat menambah wawasan tentang budaya asing dan memudahkan pembaca untuk mengenal khazanah sastra luar negeri.
3. Novel terjemahan juga disukai karena menggunakan bahasa Indonesia, bahasa ibu pembaca, sehingga lebih mudah dipahami dan proses membaca juga lebih cepat dibandingkan jika membaca buku aslinya. Selain itu, pemilihan kata dalam novel terjemahan juga lebih bervariasi. Kadang malah menemukan kata-kata bahasa Indonesia yang hanya ditemukan dalam novel terjemahan.
4. Lebih mudah didapatkan dibanding buku aslinya, dan umumnya lebih murah. Atau mengutip jawaban salah satu responden, “Novel terjemahan memungkinkan saya membaca novel internasional dengan harga lokal.” Continue reading

Sepuluh Hal Penting Saat Menerjemahkan Fiksi

Berkaca dari pengalaman saya beberapa waktu lalu, pengalaman yang bikin saya cukup panas-dingin karena baru pertama kali merasakan ‘berhadapan langsung’ dengan penulis yang bukunya saya terjemahkan, sepuluh poin yang dipaparkan John McGlynn dari Yayasan Lontar dalam seminar On the Road to Frankfurt: How Translations Travel yang berlangsung tanggal 24 Maret lalu di Gedung Kompas Gramedia menurut saya layak dicatat (Duh, panjang sekali kalimat ini. Tolong diedit :D)

Berikut kesepuluh hal penting tersebut:

Translate, write and rewrite — Menerjemahkan, menurut saya, bisa dibilang sama dengan menulis ulang. Itu sebabnya terjemahan fiksi yang harfiah tentu tidak enak dibaca, karena…

Pay respect to original but honor the target language — Penerjemah wajib menghormati bahasa asli tapi juga harus menghargai bahasa target. Usahakan agar naskah yang kita terjemahkan bisa terbaca seolah-olah ditulis oleh orang Indonesia sendiri, bukan disadur dari naskah asing. Hargai pula panduan-panduan yang kita miliki sebagai penerjemah bahasa Indonesia, misalnya KBBI. Tentunya dengan tetap mengindahkan ‘suasana’ yang dibangun penulis dalam novel asli.

Continue reading