Dance Your Troubles Away

Nyontek judul albumnya Archie Bells & the Drells (1975)

Got to Dance - Series 4RX12; Amour.© Justin Downing for Sky One HD27.09.12

Saya lagi senang mengikuti acara reality show Got to Dance (GTD), yang menampilkan bakat-bakat menari dari seluruh Inggris dan Irlandia. Bukan karena saya bisa menari (walaupun saya selalu terhibur menonton orang yang pandai menari), tapi karena acara ini menampilkan passion, ketulusan dan kebahagiaan dari orang-orang yang terlahir untuk menari. Juri-jurinya pun selalu ekspresif dan tidak dibuat-buat dalam bereaksi atau mengomentari tarian para peserta.

Dalam acara ini, terutama pada saat audisi, bukan semata-mata kesempurnaan yang dinilai. Kalau kesempurnaan menari, ada acara lain yang lebih ‘berat’ seperti So You Think You Can Dance. Itu sebabnya GTD memberi tempat pada si kecil Dolly (3 tahun), yang penampilan panggungnya tidak bisa dikategorikan tarian, namun diganjar 3 bintang emas oleh para juri karena Dolly adalah perlambang hasrat untuk menari yang begitu besar dan tulus. Atau seorang wanita bertubuh kerdil (saya lupa namanya) yang tentu saja tidak bakal bisa melakukan gerakan-gerakan sulit seperti split melayang atau jungkir balik karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Tapi dia mendapat 3 bintang emas karena saat menari, dia benar-benar menunjukkan kecintaan dan semangat. Dia sudah menari sejak umur 4 tahun, dan terkadang saat manggung, orang-orang mencemoohnya. Tapi dia tak peduli. Anything that life thrown at you, you just…dance!

Di tempat terapi, setiap minggu saya bertemu beragam orang dengan bermacam-macam masalah kesehatan. Semangat saya selalu terpacu kala mendengar cerita pasien-pasien lain yang penyakitnya lebih parah dari saya, tapi tetap bisa tersenyum dan tertawa-tawa. Ada seorang anak berumur 10 tahun yang ginjalnya bocor atau semacam itu, dan sekarang kondisinya sudah dinyatakan 99% baik oleh dokter, setelah 1 tahun menjalani terapi. Apakah dia lesu dan cengeng? Tidak! Kata ayahnya, anak itu dengan patuh minum jamu pahit dari terapis, 1 liter sehari. Si ayah juga menuturkan, teman-teman si anak yang pernah sama-sama menjalani kemoterapi kini sudah pergi ke Surga. “Saya bersyukur sekali anak saya masih diberi kesempatan hidup,” katanya.

Ada juga seorang pria muda yang otaknya mengalami gangguan akibat overdosis. Dia selalu ditemani oleh ayahnya (yang tidak bisa dibilang muda lagi) setiap kali berobat. Bahkan, saat si anak sedang malas datang, karena emosinya yang kadang tidak stabil, si ayah tetap datang untuk membeli jamu. Setiap minggu. Selama setahun lebih. Mungkin tidak semua orangtua punya kesabaran serupa itu. Apalagi si anak pasti sudah menghabiskan banyak biaya karena sebelum berobat di tempat yang sekarang, dia sudah dibawa ke mana-mana. Kesabaran sang ayah berbuah manis. Beberapa minggu lalu, anaknya dinyatakan sembuh total oleh terapis, dan tidak perlu datang lagi. Kami semua otomatis mengucapkan hamdalah karena ikut bahagia.

Tentu saja,  tidak semua pasien di sana berjiwa besar. Saya juga tidak berani mengklaim diri saya berjiwa besar, tapi obrolan dengan salah seorang pasien minggu lalu membuat saya sadar bahwa sikap pesimis yang keterlaluan juga mengesalkan dan tidak enak didengar. Begini kira-kira obrolan kami :

Saya : Sakit apa Bu?

Ibu A : Saya ada kista. Sudah capeek berobat. Nih badan saya sampe kurus ngikutin pantangan makan dari Pak Haji. Tapi ya belum sembuh juga. Jadinya saya suka pusing, flu nggak abis-abis. Mana kalau habis minum jamu tuh beser, jadi capeek. Kalau minumnya malam, tidur kan jadi terganggu….

Dan seterusnya dan sebagainya. Itu pun ternyata si ibu sudah 3 bulan absen berobat, alasannya ya itu. Capeek dan bosaan. Padahal kalau mau cepat sembuh ya memang harus sabar dan nggak bolong-bolong berobatnya. Belum cukup mengeluh, dia kemudian ingin menjatuhkan mental saya (ini sih perasaan saya aja hehehe) waktu saya bilang penyakit saya miom. Mungkin supaya ada teman sengsara😛

Ibu A : Wah, miom itu lebih parah daripada kista. Bisa menjurus kanker. Emang nggak pernah ngerasa sakit? Saya aja cuma kista tapi kalau mens sakitnya ya Allaah, nggak kuat saya sampe pingin pingsan. Emang nggak ada kelainan apa gitu? Nggak pernah sakit? (dia bertanya dengan nada tak percaya)

Saya : Nggak Bu, dibawa santai aja.

Ibu A : Terus pantangan makannya diikutin nggak?

Saya : Ya Insya Allah diikutin, paling suka kebablasan kalau lagi kondangan (kata saya sambil tertawa, maksudnya biar agak ceria gitu lho obrolan kami)

Ibu A langsung menyambar : Nah itu, kalau yang suka kebablasan itu biasanya bakal makin parah tuh penyakitnya, tambah lama lho sembuhnya.

Saya pun menyerah dan memilih untuk membaca novel yang saya bawa. Saya tidak butuh dementor untuk memperburuk hari saya. Padahal si ibu sudah menyatakan sendiri “Saya aja cuma kista”. Nah! Cuma kista, bukan kanker ganas atau ginjal bocor. Seharusnya kami bisa bersyukur karena masih hidup, bukan?

Hidup saya memang tidak dramatis-dramatis amat. Tapi saya kok merasa kita ini sedang naik roller coaster kehidupan. Seperti halnya naik roller coaster, paling afdol itu kalau naiknya dinikmati, bukan dilawan. Memang ada pusingnya, ada ngerinya, kadang kepingin nyerah dan sampai muntah. Tapi begitu roller coaster berhenti, ada kepuasan tersendiri karena kita sudah menaklukkan si monster. Memang bukan membantainya. Saya tidak sehebat itu sehingga bisa membantai monster. Tapi paling tidak si monster tak berhasil mematikan nyala lilin kita.

Got to Dance - Series 4RX05Eddie's Angels© Chris Lobina for Sky One HD

Maka saya pun tersenyum saat menonton episode GTD minggu ini. Seorang kakek berusia 96 tahun bersama kelompok tarinya yang beranggotakan orang-orang tua naik ke atas panggung dan membuat juri kagum karena semangat mereka. Gerakan mereka jauh dari sempurna, tentu saja. Tapi 3 bintang emas berhasil mereka peroleh.

“Anda menginspirasi kami, Sir” begitu ucapan salah satu juri. Ya, apa pun yang terjadi, menarilah. Menari sampai tua, dan menari sampai mati. It’s only you who can dance your troubles away…

This entry was posted in Life.

14 comments on “Dance Your Troubles Away

  1. kenterate says:

    Tulisan yang sangat manis, menyentuh dan menyemangati sekaligus.

  2. Fa says:

    tetap semangat, Mbak Uci🙂

  3. palsay says:

    Iya bener…dance your troubles away & keep positive…the only disability is a bad attitude..semoga cepet sembuh ya mami Uci…kalau perlu aku bantu sefting, kita bisa ketemuan besok.. kabari aja ya, nomor hape ku 085215115942 *hugs*

  4. Semangat ya, Uci! Cepat sembuh! *peluk*

  5. yuliono says:

    I looooooooove watching this show… #fokusdiawal dan aku suka nge-dance dan waktu nge-dance, semua masalah memang terasa terbang entah ke mana.

    ….buat Mbak Uci, tetap semangattt….:)

  6. bundanadnuts says:

    I love the show! Tapi dah lama gak lihat karena dah gak pake cable lagi. Ciyan deeeh.

    Anyway, GWS ya, Ci. Tapi salut Uci masih mau ngobrol sama ibu itu. Aku mah udah kabur dari kapan kali. Somehow, Alhamdulillah, selama berobat Muhammad, baik jantung maupun gizinya, gak ketemu yang model begitu. Semua saling menguatkan dan menyemangati. Jangan2 kalo ada yg model begitu, bisa2 dijitak rame2. Oops.😉

  7. […] reading Uci’s post here, I feel like writing a bit about my love for dancing. Yes, I love […]

  8. Istanamurah says:

    semangat tidak diukur dari tua nya berarti ya gan!! sangat menginspirasi yang muda,

  9. […] reading Uci’s post here, I feel like writing a bit about my love for dancing. Yes, I love […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s