Me Before You (Sebelum Mengenalmu)

me before you

Judul : Me Before You (Sebelum Mengenalmu)

Penulis : Jojo Moyes

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Mei 2013

Belakangan ini istilah Sick Lit sering terdengar dan memancing perdebatan di mana-mana. Menurut Macmillan Dictionary, Sick Lit adalah bacaan yang menampilkan anak-anak (remaja) sakit dan ditulis untuk anak-anak (remaja). Perdebatan muncul karena pihak yang kontra merasa cerita-cerita semacam itu berpotensi merusak generasi muda. Mendorong mereka untuk berkubang dalam depresi, menyiksa diri sendiri, bahkan bunuh diri. Sementara yang pro menganggap tidak ada yang salah dalam memperkenalkan kenyataan pahit dunia kepada anak-anak.

Buku ini tentu tidak masuk dalam perdebatan tersebut karena tidak ditujukan untuk usia remaja. Namun saat membacanya sempat terpikir juga apakah salah jika menitikberatkan sebuah novel pada tokoh yang sakit parah? Istilahnya, memancing simpati dan air mata dengan kisah sedih bertabur penyakit dan kematian? Jawaban saya: tidak. Buku bagi saya merupakan cara paling mudah untuk mengenal pahit-manis dunia tanpa harus mengalaminya sendiri. Buku ini mengenalkan saya pada suatu penyakit, tepatnya kelumpuhan, bernama quadriplegia, yang mengakibatkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi anggota badan dan dada. Bisa dibayangkan betapa sulit kehidupan yang mesti dijalani si penderita?

Sebelum lumpuh akibat kecelakaan, Will Traynor adalah lelaki muda yang begitu menikmati hidup. Tampan, sukses dalam karir dan mengisi waktu luangnya dengan berkeliling dunia, mencoba berbagai macam petualangan yang membutuhkan kesempurnaan fisik seperti bungee jumping dan panjat tebing. Maka ketika dunianya tiba-tiba harus dibatasi oleh kursi roda, serangan infeksi tak berkesudahan dan bantuan orang lain bahkan untuk buang air, dia begitu frustrasi, depresi, dan marah pada dunia.

Jojo Moyes dengan detail menggambarkan berbagai ‘ritual’ yang mesti dijalani Will setiap hari. Minum obat, terapi, serangan kejang, hingga amukan-amukannya.

Lalu datanglah Louisa Clark, gadis nyentrik yang dipekerjakan oleh orangtua Will untuk menemani dan melayani kebutuhan putra mereka setiap hari. Dunia mereka yang bagaikan bumi dan langit mendadak harus menyatu dalam situasi yang menyedihkan. Will kalangan ningrat, Lou datang dari keluarga pekerja. Will berpendidikan tinggi, Lou bahkan tak pernah kuliah. Will sudah melihat dunia, Lou belum pernah keluar dari kota kecil yang dia tinggali sejak lahir. Lou cerewet dan ceria, Will muram dan sinis. Yang paling ironis, Will dibayangi masa lalu gegap gempita namun tak bisa lagi dia rasakan, sementara Lou punya masa depan yang terbentang luas namun enggan meraihnya.

Hubungan mereka memang tak langsung manis, tapi sedikit demi sedikit keduanya mengubah hidup satu sama lain. Tanpa disadari, mereka seakan berjalan ke arah yang sama namun dengan tujuan akhir yang jauh berbeda.

Buku ini juga mengangkat topik yang cukup berani. Assisted suicide, atau bunuh diri yang dilakukan atas keinginan sendiri dengan dibantu orang lain. Praktik ini memang sudah dilegalkan di beberapa negara, namun tetap kontroversial. Apakah seseorang berhak memutuskan kapan dia ingin mati, meskipun terbukti mengidap penyakit yang tak tersembuhkan? Bukankah itu sama saja mendahului ketentuan Tuhan? Tapi tegakah kita memaksa seseorang yang begitu menderita untuk bertahan, separah apa pun kondisinya? Sepanjang buku ini, Jojo Moyes menggambarkan dengan baik pertentangan batin orang-orang yang diminta membantu proses bunuh diri tersebut.

Apa hak orang-orang yang mampu dan berbadan sehat untuk memutuskan seperti apa seharusnya kehidupan kami? (hal. 361)

Jujur saja, sekilas ada aroma ‘Cinderella Story’ dalam kisah ini. Lelaki kaya bertemu gadis sederhana, mereka jatuh cinta dan sang Cinderella memasuki dunia baru yang tak terbayangkan sebelumnya. Tetapi kisah mereka begitu menyentuh sehingga saya tak mampu berlama-lama sinis. Salah satu adegan yang membuat saya berkaca-kaca adalah ketika Lou menyanyikan lagu Molahonkey untuk Will yang sedang terbaring lemah setelah dihantam salah satu serangan infeksi. Lagu itu biasa dinyanyikan ayah Lou setiap kali Lou sedih atau takut.

I wi-li-lished I li-li-lived in Molahonkey la-la-land. The la-la-land where I-li-li was bo-lo-lo-lo-lo-lorn. So I-li-li could play-la-lay my o-lo-lold banjo-lo-lo. My o-lo-lold ban-jo-lo-lo won’t go-lo-lo-lo-lo-lo-lo

Terlebih lagi, Me Before You bukan sekadar kisah cinta antara dua manusia berbeda dunia. Tapi tentang merayakan hidup, mensyukuri hidup, memberi arti pada hidup.

Menurut Jojo Moyes, kesulitan terbesar saat menulis Me Before You adalah menentukan akhir ceritanya. Semua pembaca pun saya rasa merasakan kegalauan yang sama kala menantikan akhir cerita ini. Namun satu hal yang diperoleh Lou dan Will selama kebersamaan mereka adalah pemahaman bahwa hidup ini penuh dengan kemungkinan. Kadang kita perlu memaksa diri melakukan sesuatu yang benar-benar di luar kebiasaan kita. Bagaimanapun, kita tak akan pernah tahu apakah kita menyukainya sampai sudah mencoba sendiri.

Kau hanya hidup satu kali. Sudah kewajibanmu untuk menjalani hidupmu sepenuh-penuhnya. (hal. 335)

4 bintang

7 comments on “Me Before You (Sebelum Mengenalmu)

  1. azmee says:

    selalu suka baca review buku dari kak uci.. bikin wishlist ku bertambah euy..hehehe

  2. roos says:

    Waaaaaah suka….mau ah baca…hehehe.

  3. kmrn pas ke gramedia sempet kepikiran buat beli buku ini. Skrg jd pengen beli🙂

  4. mine F M says:

    kalo orang kita mah kaga bakal kaya gitu endingnya. kan kasian si lou T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s