Merayakan Penerjemahan Buku

Minggu lalu (tanggal 8-12 Oktober 2012) saya mengikuti Indonesian Relay Translation Workshop, yang pada intinya merupakan wadah bagi para penerjemah untuk berkumpul dan mengulik naskah novel sastra bersama-sama, dengan dihadiri oleh penulisnya langsung. Relay di sini artinya naskah yang kami terjemahkan sudah diterjemahkan lebih dahulu ke bahasa Inggris dari bahasa asli si penulis. Kelas yang saya ikuti adalah penerjemahan dari bahasa Norwegia-Inggris-Indonesia. Jadi selain penulis Kjersti Skumsvold (ternyata Kjersti dibaca Schasti di Norwegia), kelas kami juga dihadiri Kari Dickson, penerjemah dari bahasa Norwegia ke bahasa Inggris.

Lokakarya ini mengikuti model summer school yang diadakan oleh British Centre for Literary Translation (BCLT) sejak tahun 2000 di kota Norwich. Summer school tersebut selalu menarik banyak peminat dan dihadiri oleh penulis dari berbagai negara yang karyanya akan diterjemahkan bersama-sama ke dalam bahasa Inggris. Untuk tahun ini saja, para penulis didatangkan dari Norwegia, Jepang, Belanda, Prancis, Jerman dan Spanyol. Lebih lengkap mengenai BCLT dapat dibaca di sini.

Ngiri juga lho melihat betapa novel terjemahan dan para penerjemahnya punya wadah dan dukungan sebagus itu di Inggris. Mereka bahkan sudah rutin memberikan penghargaan untuk karya terjemahan terbaik. Nah, wadah seperti itulah yang hendak diwujudkan di sini oleh penggagas acara, Eliza Vitri Handayani. Dia ingin Indonesia nantinya juga memiliki Pusat Penerjemahan Sastra, yang bertujuan meningkatkan kualitas para penerjemah, hasil terjemahan, serta kondisi kerja bidang terjemahan sastra di Indonesia. Untuk penyelenggaraan acara ini, Eliza bekerja sama dengan Kate Griffin, International Program Director BCLT, yang ditemuinya di London Book Fair Wawancara lengkap dengan Eliza dapat dibaca di sini.

Salah satu pengalaman berharga yang saya dapatkan selama mengikuti lokakarya ini adalah kesempatan bertemu Kari Dickson. Kari adalah penerjemah novel Three Seconds karya Anders Roslund dan Borge Hellstrom dari bahasa Swedia ke bahasa Inggris. Dan beberapa waktu lalu, novel tersebut saya terjemahkan ke bahasa Indonesia (walaupun belum terbit). Pasti ini bukan kebetulan dong🙂

Yang menarik, meski di Inggris penerjemah sastra terkesan sudah begitu dihargai, ternyata di awal pertemuan kami, Kari menyarankan (setengah bercanda) agar mereka yang berniat terjun sebagai penerjemah sastra sebaiknya tidak meninggalkan pekerjaan tetapnya dulu. Setelah punya posisi mantap, baru boleh sepenuhnya berkarir sebagai penerjemah. Dosen sastra di University of Edinburgh ini mengaku baru bisa mencapai tahap itu setelah beberapa tahun menjadi penerjemah. Kini setelah namanya dikenal dan hasil pekerjaanya diakui, dia punya nilai tawar yang tinggi dalam menentukan honor serta tenggat waktu. Kari bisa dibilang beruntung karena penerjemah dari bahasa-bahasa Skandinavia ke bahasa Inggris di sana hanya sekitar 200-an orang (yang tercatat), sementara dari bahasa Norwegia ke bahasa Inggris hanya 20-an orang. Padahal banyak sekali permintaan terjemahan karya sastra dari wilayah Skandinavia ke bahasa Inggris. Mungkin saya harus mulai belajar bahasa asing lain ya, biar saingan nggak banyak dan selalu dicari orang hehehe

Perbedaan mencolok lain dari kondisi kerja kami adalah intensitas komunikasi dengan penulis. Tidak dapat dipungkiri bahwa versi bahasa Inggris dari sebuah novel sangat penting karena banyak penerbit di seluruh dunia memilih untuk menerjemahkan dari bahasa Inggris dan bukan dari bahasa aslinya. Itu sebabnya untuk menerjemahkan novel setebal 480-an halaman ini Kari butuh waktu enam bulan, karena penulis biasanya minta membaca dulu hasil terjemahannya dan kadang mereka harus ‘berantem’ karena tidak sepakat soal terjemahan tentang satu atau dua hal. Bandingkan dengan novel terjemahan Indonesia yang mungkin bisa dengan mudah terbit meskipun mengandung banyak kesalahan terjemahan, karena penulisnya tidak ‘mengenal’ bahasa Indonesia.

Selama lokakarya, saya juga semakin sadar betapa banyak kesalahan terjemahan yang bisa terjadi jika kita tidak berkomunikasi dengan penulis. Sebagai contoh, Kjersti menulis ‘the woodpecker poet’. Saya mencarinya di Google dan tidak menemukan informasi apa pun. Saya putuskan saja bahwa itu adalah julukan untuk seorang penyair. Ternyata setelah ditanyakan langsung, di Norwegia memang ada seorang penyair yang bekerja sebagai penebang kayu. Namanya mungkin tidak dikenal, tapi dia termasyhur sebagai penyair yang penebang kayu. Beuuh, jauh banget kan interpretasi saya…

Kari dan Kjersti pun mendorong kami untuk tidak ragu-ragu mengontak penulis atau penerjemah bahasa Inggris dari novel yang sedang kami terjemahkan agar tidak terjadi ‘lost in translation’ yang artinya menjaga kualitas terjemahan. Mereka sendiri mengaku sangat senang menjawab pertanyaan dari penerjemah, bahkan jika harus berlembar-lembar. Saat berpamitan di hari terakhir, Kjersti kembali mengingatkan saya untuk selalu mengontak penulis jika ada yang perlu ditanyakan. Saya ingat betul kata-katanya, “Kalau si penulis tidak menjawab pertanyaan kamu, berarti dia yang salah, bukan kamu.”

Sementara Kari berpesan, “Memang sulit mengubah kondisi kerja ketika penerjemah tidak punya nilai tawar yang tinggi. Tapi kalau kamu tidak berani mengubah, maka selamanya tidak akan berubah. Kamu harus berani menentukan tenggat waktu. Kalau pengguna jasamu menolak dan ‘mengancam’ untuk mempekerjakan orang lain, kamu harus berani bilang, ‘Silakan, mau pilih yang bagus atau yang cepat’.” Sebenarnya sih, berdasarkan pengalaman pribadi, di sini masalah tenggat waktu mungkin sama-sama menguntungkan (atau sama-sama menyulitkan?) bagi penerjemah dan penerbit. Penerbit butuh cepat, penerjemah pun ingin cepat supaya jarak ‘gajian’ tidak terlalu jauh. Bayangkan kalau satu novel dikerjakan selama enam bulan, kita mau makan apa? Kecuali jika honor dari satu novel bisa mencukupi kebutuhan untuk enam bulan ya hehehe. Solusinya, penerjemah dan editor harus berusaha menghasilkan terjemahan sesempurna mungkin dan bekerja sama sebaik-baiknya guna meminimalisir kesalahan serta kekeliruan interpretasi.

Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat seminggu kemarin, termasuk ‘tamparan di muka’ bahwa terjemahan saya belum tentu disukai orang lain dan malah dianggap aneh😀

Semoga lokakarya ini tidak berhenti sampai di sini dan suatu hari nanti kita akan punya Pusat Penerjemahan Sastra yang dapat merangkul para penerjemah dan pihak-pihak terkait serta meningkatkan kualitas karya terjemahan di Indonesia. Impian yang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Siapa tahu, nantinya para pembaca tidak akan lagi berkata “Mending gue baca bahasa Inggrisnya aja deh!” dan lebih memilih versi terjemahan Indonesia😉

20 comments on “Merayakan Penerjemahan Buku

  1. helvry says:

    kadang aku nggak gitu suka dengan kalimat orang-orang seperti ini di twitter:
    “Mending gue baca bahasa Inggrisnya aja ”

    dia apa nggak sadar apakah di berfollow-followan dengan beberapa penerjemah, tentunya jika ia berniat memperbaiki, lebih baik menunjukkan apa dan dimana kekurangannya, alih-alih ngetwit seperti di atas.

    semangat mamih🙂

  2. […] juga cerita Uci yang mengikuti kelas penerjemahan relay bahasa Norwegia – Inggris – Indonesia. Setelah […]

  3. lamfaro says:

    “Kari dan Kjersti pun mendorong kami untuk tidak ragu-ragu mengontak penulis atau penerjemah bahasa Inggris dari novel yang sedang kami terjemahkan agar tidak terjadi ‘lost in translation’ yang artinya menjaga kualitas terjemahan.” –> Bener banget. Belum pernah, tapi aku pasti nyesel berat jika ternyata terjemahanku tidak akurat hanya karena malas bertanya. Lain kali aku harus melakukannya.

    Makasih sharingnya, ci. Sungguh aku nyesel ga ikut setelah baca tulisan teman-teman yg lain juga. Hihi iya kapan nih terwujud niat belajar bahasa asing lain…😀

    • bruziati says:

      Iya Lu, kita seringnya malas nanya karena dikejar deadline hehehe. Padahal kan kasian penulisnya kalau ternyata terjemahan kita meleset jauh.

      Ayo dong Lu, kapan nih mulai kursus bahasa lain?

  4. akhlisblog says:

    Diversifikasi memang perlu sepertinya. Kalau aku pernah sedikit belajar bahasa Korea tapi sekarang sudah luntur. Banyak tidak ya peluang terjemahan Korea?

    • bruziati says:

      Kalau sekarang kayaknya lagi banyak nih, kan lagi demam korea. Tapi saudaraku yang lulusan sastra korea sih nggak pernah sepi job…Ayo Mas dimanfaatkan bahasa koreanya🙂

  5. krismariana says:

    nasihat Kari agar penerjemah pemula tidak melepaskan pekerjaan utamanya itu kurasa bener banget.

    aku juga sering malas mengontak penulis aslinya untuk menanyakan maksud tulisannya. mungkin karena sungkan dan tidak yakin saja dia mau membalas. tapi sejak lokakarya kemarin aku jadi berpikir bahwa lebih baik tanya langsung ke penulis daripada terjemahan kita salah.

    lokakarya kemarin memang asyik banget. nambah ilmu dan teman baru. sayang kita belum sempat mengobrol, ya. semoga kapan-kapan ada waktu lagi untuk berbagi cerita🙂

  6. Aku sering juga mengontak penulis untuk meminta keterangan soal karyanya. Memang asyik dapet pencerahan langsung dari penulis. Dulu pas aku ke konferensi penerjemahan di Macau, makalahku juga tentang itu🙂

  7. rebo says:

    “Mending gue baca bahasa Inggrisnya aja deh!”
    dan mungkin banget dia salah interpretasi ttg kata2 seperti “woodpecker poet”, atau salah memahami si narator menelpon siapa: kampus atau panti jompo?
    hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s