Sepatu Aladin

Setiap kali melihat model sepatu kulit yang bagian depannya lancip dan agak mencuat, suami saya pasti langsung cengar-cengir sambil menyeletuk, “Nggak bakal deh pakai sepatu kayak begitu.” Alhasil kalau mesti memakai sepatu resmi (karena sehari-hari dia ke kantor dengan sepatu keds), suami saya akan memilih model sepatu yang bagian depannya bulat atau kotak. Saya pikir dia hanya tidak suka modelnya, yang menurut saya memang agak aneh, walaupun saya lihat banyak juga kaum pria yang suka dan nyaman memakainya. Tapi ternyata ada cerita di balik ketidaksukaannya itu.

Waktu kuliah di Semarang dulu, suami saya pernah dibelikan sepatu oleh ibunya di pasar. Sepatu kulit sintetis berujung lancip yang harganya murah meriah. Waktu masih baru sih si sepatu baik-baik saja, dan suami saya yang saat itu memang suka dengan model sepatu rapi menerimanya dengan senang hati. Ya jelas senang lah, karena sebelum itu dia terpaksa memakai sepatu salah seorang teman yang berbaik hati memberikan sepatunya yang sudah dipensiunkan. Sepatu suami saya sendiri sudah lama jebol.

Keharmonisan suami saya dengan sepatu barunya tidak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan beberapa bulan sepatu itu mulai menunjukkan tanda-tanda pemberontakan. Bagian depan sepatu yang awalnya menjejak tanah dengan mantap, sedikit demi sedikit mulai mendongak pongah. Mungkin sebagai isyarat protes karena terlalu sering diajak berkutat dengan batu, semen, mortar dan baja di laboratorium teknik. Mungkin si sepatu inginnya dibawa ke tempat-tempat yang nyaman dan adem hahaha.

Suami saya yang mulai resah dengan pemberontakan si sepatu mencoba membujuknya untuk kembali menjejak tanah dengan cara…menginjak-injaknya! Setiap kali ada kesempatan melepas sepatu, misalnya saat kuliah teori atau makan di warung yang memungkinkan suami saya untuk duduk tenang, dia langsung membuka sepatu dan menginjak bagian depannya dengan sepenuh hati, berharap usaha tersebut bisa mengembalikan si sepatu ke bentuk semula.

 Namun seperti kata pepatah, semut saja diinjak melawan. Apalagi sepatu! Semakin sering diinjak, semakin tinggi pula dia mendongak. Sampai akhirnya suami saya pasrah dan membiarkan saja ulah si sepatu.

Derita suami saya tidak berakhir sampai di situ. Suatu hari ketika sedang menongkrong ramai-ramai di kampus, salah seorang temannya memperhatikan sepatu suami saya dan meledek dengan suara keras, “Mbok diganti tho sepatumu. Sepatu kok njengat koyo sepatu Aladin. Sekalian celuk’ke Jin Kartubi!” yang langsung disambut tawa meriah teman-teman lainnya. Kalau dalam logat Jakarta, ledekan itu kira-kira berbunyi begini, “Diganti kek sepatu lu. Masak sepatu njengat kayak sepatu Aladin. Sekalian aja panggilin Jin Kartubi!”

Jadilah sejak hari itu suami saya dikenal dengan sepatu Aladin-nya. Untunglah dia orangnya cuek, jadi dibawa enjoy saja, bahkan ikut tertawa setiap kali ada yang meledek. Mau tersinggung atau marah juga tidak ada gunanya kan. Namanya juga anak muda, cela-mencela sudah hal biasa dalam pergaulan, begitu dia menghibur diri. Lagi pula sepatunya memang cuma satu itu, mau ganti yang baru tidak ada uang, mau minta orangtua juga segan. Masak menyerah cuma gara-gara diledek teman?

Suami saya pun berdamai dengan sepatu Aladin-nya. Tetap dipakai setiap hari, tetap dibersihkan dan dirawat supaya awet, tetap disayang karena cuma satu-satunya. Bukan berarti suami saya enggak usaha. Dia tetap bertekad mencari pengganti si sepatu Aladin yang sudah mengkhianati kemesraan mereka. Kebetulan salah seorang temannya menawarkan peluang memasarkan celana jins dan kemeja bermerek L yang tidak bisa diekspor karena ada cacat-cacat kecil. Lumayan juga, dari satu celana suami saya bisa mengambil keuntungan kira-kira sepuluh ribu rupiah, meskipun harus mondar-mandir sampai ke kota lain untuk mengantarkan celana dan kemeja. Dari hasil tiga bulan berjualan, terkumpullah uang untuk membeli sepatu bermerek C yang sudah lama dia idam-idamkan. Setelah kurang lebih setahun mengarungi hidup bersama, akhirnya suami saya mengucapkan selamat tinggal pada sepatu Aladin.

Nah, sepatu idaman suami saya modelnya besar seperti sepatu bot. Dia harus mencarinya dengan sedikit usaha ekstra karena sebenarnya tren sepatu itu sudah lewat. Untung saja dia berhasil mendapatkannya dan dengan gagah berangkat ke kampus mengenakan sepatu baru yang tidak lagi njengat.

Tapi apa mau dikata. Melihat sepatu besar yang sudah ketinggalan zaman itu, salah seorang temannya kembali meledek. “Kowe nganggo sepatu opo boto?” yang artinya, “Kamu pakai sepatu atau batu bata?” Jadilah suami saya kembali mendapat julukan baru, si sepatu boto. Dia menerimanya dengan lapang dada, karena julukan sebanyak apa pun tidak akan bisa mengalahkan kepuasan memiliki sepatu yang diperoleh dengan usaha sendiri.

* Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kisah Inspirasi “Aku dan Sepatuku” http://www.facebook.com/note.php?note_id=385836684802206

 ** Ilustrasi sepatu oleh mantan pemilik sepatu Aladin, Eko Sri Raharjo

4 comments on “Sepatu Aladin

  1. ayutuuh says:

    wah, mas Eko pancen jempolan..

    cuek aja lah ya sama omongan orang lain..
    kalo prinsipku, cuma orang yang mau beliin gantinya aja yang boleh ngeledek kepunyaanku..😀 *ditimpukin*

    • bruziati says:

      Hahaha bener juga ya Yu, ngeledek berarti bayar😀
      Dan sampai sekarang Eko tetap berprinsip, sebelum sepatu rusak nggak perlu beli yang baru. Sayanya yang susah :))

      • ayutuuh says:

        iya, soalnya taraf rusak yang harus beli lagi juga kan beda-beda, mbak..

        misalkan, menurutku kalo pita atau hiasan di sepatuku copot, ya artinya rusak, padahal sebenernya fungsi asli dari sepatu tersebut masih bisa digunakan..

        nah, kalo mas Eko kayaknya beneran nunggu sampe gak bisa dipake jalan ya baru beli lagi?😀

      • bruziati says:

        iyaaa, tapi aku paksa-paksa sih punya sepatu lebih dari satu, buat cadangan bilangnya hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s