Mencari Jodoh Bersama Jane Austen

Judul : Three Weddings and Jane Austen

Penulis : Prima Santika

Editor : Nana Soebianto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Januari 2012

The importance of being married, julukan sang penulis tentang novel perdananya. Saat membaca halaman
‘Tentang Pengarang’ saya kebetulan sudah melewati beberapa bab dan julukan itu seolah memandu saya untuk memahami ide sang penulis.

Sampai segitunya? Yaa, terus terang saya tertarik pada novel ini karena judulnya. Kepingin tahu apa hubungan antara ketiga pernikahan itu dan Jane Austen. Terus terang lagi, saya nggak pernah kuat baca buku Jane Austen sampai selesai. Rasanya begitu laaama dan paaanjang untuk menceritakan sebuah adegan saja. Dan itulah yang saya temui dalam novel ini. Dialog-dialog panjang yang membuat saya kagum pada penulisnya karena begitu sabar merangkainya. Napas Jane Austen memang sangat terasa di sini, dalam dialog-dialog yang bercerita. Baik dialog dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dan yang membuat saya sempat kaget, penulisnya ternyata laki-laki. Tapi tidak terasa kecanggungan saat penulis bercerita dari sudut pandang perempuan. Dan bukan cuma satu perempuan, melainkan empat! Empat perempuan berbeda usia, berbeda karakter. Salut!

Saya yang sempat skeptis di awal, karena membaca Jane Austen pun tidak pernah selesai, ternyata bisa menikmati novel ini. Saya betah mengikuti dialog-dialog panjang yang mengalir lancar dan luwes. Paling-paling saya sempat mengernyit saat bertemu dialog seperti ini, yang terjadi saat Meri diajak makan di lesehan Jogja: “Lagi pula, kalo di Jakarta mana ada tempat lesehan di pinggir jalan?” Hmm…banyak sih Mas, saya sering banget ngeleseh di angkringan Fatmawati, persis di pinggir jalan hehehe.

Jadi bercerita tentang apa novel ini? Seperti halnya novel-novel Jane Austen, Three Weddings and Jane Austen tentunya berkisah tentang perjalanan dan perjuangan perempuan mencari jodoh dan memasuki gerbang pernikahan yang bahagia. Dalam hal ini kakak beradik Emma, Meri dan Lisa dibantu oleh ibu mereka, Ibu Sri, yang bertindak sebagai mak comblang, teman, sekaligus penasihat paling terpercaya. Sementara Jane Austen bertindak sebagai ‘perantara’, karena setiap kali putri-putrinya menemui masalah, Ibu Sri selalu mengacu pada pemikiran tokoh-tokoh dalam novel Jane Austen. Ada satu dialog yang pas banget menjelaskan alasan ‘kesibukan’ Ibu Sri mendorong anak-anaknya menikah:

“Lantas, kenapa Mama suka maksa aku menikah?”

“Nanti ya, Em, kalo kamu punya anak gadis, kamu bakal ngerti banget rasanya.”

Saya langsung teringat almarhumah ibu saya yang walaupun sangat pengertian, tapi kadang-kadang keceplosan juga mengutarakan harapannya ingin melihat saya segera menikah🙂

Saya juga suka renungan Emma yang saya rasa mungkin menjadi renungan banyak perempuan:

Selama ini aku selalu membayangkan diriku menikah, punya anak, punya rumah dan kendaraan, dan berbahagia di dalamnya. Tak ada yang salah dengan cita-cita ideal itu. Hanya saja saat idealisme dalam berkeluarga dihubungkan dengan batasan usia bagi seorang perempuan untuk menikah, kesenangan mencari cinta lambat laun berubah menjadi beban.

Seperti novel-novel Jane Austen (dalam pandangan saya), kisah ini juga berjalan lurus tanpa kelokan atau tanjakan yang mengharu biru. Namun twist di bagian akhir membuat nilai novel ini meningkat di mata saya karena beberapa kejadian yang dialami tokoh-tokohnya yang begitu kental dengan nuansa ‘kebetulan’ ternyata memiliki alasan, bukan terjadi begitu saja. Dan setelah membaca dengan adem ayem sepanjang novel setebal 457 halaman ini, akhirnya saya berkaca-kaca juga waktu Ibu Sri membisikkan nasihat kepada putri-putrinya saat acara sungkeman di akad nikah mereka.

Bagi yang sinis dengan pernikahan, atau sinis dengan kegalauan orang-orang yang menanti jodoh, atau sinis dengan kekhawatiran orangtua yang ingin anaknya segera menikah, mungkin novel ini juga akan dipandang dengan sinis. Karena ya itu tadi, novel ini memang berkisah tentang pentingnya menikah, seperti kata penulisnya sendiri. Meri pun menuturkannya dengan lugas kepada Lisa, si bungsu, yang kerap meragukan pernikahan.

“Tapi semua orang menikah, Lis. Berarti seberat apa pun pernikahan itu buat kehidupan, seharusnya masih bisa kita jalani. Kalaupun ada yang berhasil dan ada yang nggak, ya seperti kehidupan kita pada umumnya, mungkin faktor keberuntungan ikut menunjang.”

Atau seperti kata Jane Austen,

“Happiness in a marriage is entirely a matter of chance.”  – Pride and Prejudice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s