Gadis dengan Kaki dari Kaca

Judul Asli : The Girl with Glass Feet

Penulis : Ali Shaw

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 432 halaman

Cetakan: I, Maret 2011

“…kau tidak pernah ingin tahu…ke mana perginya perasaan?”

Jika diminta menceritakan isi buku ini, rasanya saya hanya bisa menjawab bahwa Gadis dengan Kaki dari Kaca adalah sebuah dongeng yang indah tentang perasaan dan isi hati manusia. Mungkin tubuh yang berubah menjadi kaca atau makhluk-makhluk aneh bersayap yang ditemukan di Kepulauan St. Hauda’s Land adalah metafora yang digunakan penulis dan hanya dia yang benar-benar memahami maknanya. Karena sampai seribu tahun dari sekarang pun mungkin saya tidak akan pernah melihat gadis berkaki kaca atau lembu bersayap, tapi saya paham bahwa pertemuan dengan mereka bisa mengubah hidup saya dengan cara yang tak pernah terbayangkan.

Ida MacLaird sebelumnya adalah gadis yang sangat aktif, gemar bertualang ke berbagai negara dan hobi menyelam di laut. Sampai suatu hari dia mendapati kakinya perlahan-lahan berubah menjadi kaca, dan hilang sudah segala kesenangan hidupnya yang membutuhkan fisik sempurna. Kini Ida mengisi hari-harinya dengan menyusuri Kepulauan St. Hauda’s Land yang sunyi untuk berusaha mencari pengobatan. Dan pada prosesnya bertemu orang-orang ‘aneh’ yang menjalani hidup mereka dalam dunia sunyi masing-masing, orang-orang yang menyimpan berbagai rahasia dan masa lalu kelam. Orang-orang yang menyiksa diri dengan bergelimang dalam kenangan, meski kenangan itu menyakitkan. Orang-orang yang memilih untuk tidak bersentuhan dengan manusia lain, demi melindungi diri mereka sendiri yang rapuh.

Midas Crook hanya berteman dengan kameranya, hanya memercayai dunia yang dia lihat melalui lensa kamera, bukan dunia nyata yang terbentang di depan matanya. Persentuhan dengan manusia lain membuatnya bergidik, walaupun dulu hati Midas sesak melihat ayahnya yang selalu menghindar dari pelukan dan sentuhan ibu Midas, istrinya sendiri.

Henry Fuwa yang hidup menyendiri di wilayah paling terpencil di Kepulauan itu, dengan pita suara yang kaku karena tidak pernah digunakan untuk berbicara dengan manusia lain. Henry yang memendam cinta pada wanita yang salah dan tetap dihantui olehnya hingga bertahun-tahun kemudian. Henry yang diyakini Ida mengetahui obat untuk penyakitnya, namun ternyata menyimpan rahasia mengejutkan tentang manusia-manusia kaca.

Carl Mausen, sahabat keluarga Ida yang mencoba menolong Ida seperti dulu dia berusaha menolong ibu Ida. Carl juga tak pernah beranjak dari masa lalu, dan kedatangan Ida malah semakin membuatnya terpuruk, walaupun sebenarnya dia bisa memiliki kehidupan yang lebih bahagia, andai dia tak begitu terpaku pada kenangan yang menyakitkan.

Kehidupan manusia-manusia yang hidup berdekatan namun tidak pernah berhubungan ini kemudian saling berkelindan setelah kedatangan Ida. Hati-hati mulai terbuka, rahasia-rahasia mulai terkuak, dan masa lalu mulai terkubur.

Buku ini menyampaikan, dengan penuturan yang indah, bahwa kita harus berani menghadapi kenyataan, jangan melarikan diri dengan menyalahkan masa lalu yang kita anggap telah membentuk diri kita yang sekarang. Bahwa Tuhan kerap memberi kita kesempatan untuk bahagia sekaligus kesempatan untuk berduka, dan kita sendiri yang harus memutuskan apakah akan memanfaatkan kesempatan itu atau memilih berlindung dalam zona nyaman yang tak membutuhkan pengorbanan perasaan. Bahwa cinta sejati adalah berani mendampingi apa pun yang terjadi, bahkan walaupun waktu yang kita miliki tak sampai hitungan jari.

2 comments on “Gadis dengan Kaki dari Kaca

  1. echa says:

    Covernya cantik…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s