Lost in Macau

The Giant Buddha, Hong Kong

The Giant Buddha, Hong Kong

Sebenarnya rencana awal liburan kami, saya dan Sisil, bukan ke wilayah ini. Tapi setelah membaca-baca buku panduannya (Rp 2 Jutaan Keliling Macau dan Hong Kong – Claudia Kaunang), kami tergoda juga untuk berkunjung ke sana. Apalagi karena nggak butuh visa, perginya pun jadi nggak ribet. Apakah benar cuma butuh 2 juta? Ya jelas tidak lah, 2 juta yang dimaksud di buku ini cuma buat akomodasi, transportasi di sana dan konsumsi pokok (tanpa ngemil). Beruntung kami dapat harga tiket murah dari Valuair, 2 juta PP Jakarta-Macau. Namanya juga penerbangan murah, jam terbangnya nggak bisa dibilang normal. Kami sampai di Macau jam 2 pagi dan menunggu hari terang sambil tidur-tiduran di ruang kedatangan. Ada juga beberapa orang yang ‘menginap’ di bandara seperti kami.

Walaupun sudah membaca bahwa orang Macau jarang memakai bahasa Inggris, kami sempat heran juga karena polisi bandara pun tidak mengerti waktu kami tanya cara mencapai Senado Square dari bandara. Rupanya dia hanya tahu nama Cinanya. Padahal Senado Square itu ya alun-alun kota, pusatnya Macau lah kira-kira.

Senado Square

Senado Square

Kami putuskan mengikuti cara yang digunakan Claudia, yaitu naik bus AP 1 ke Macau Peninsula, karena bandaranya sendiri terletak di Taipa, jadi beda pulau (dihubungkan dengan jembatan antar pulau, kayak Suramadu gitu). Karena nggak tahu mesti berhenti di mana, kami terbawa sampai ke perbatasan China. Macau itu kecil banget sih, jadi nggak sampai setengah jam udah sampai di perbatasan hehehe.

Untungnya di perbatasan itu ada terminal bus, jadi setelah tanya-tanya (tanpa hasil karena yang ditanya nggak ngerti bahasa Inggris), kami naik bus yang tulisannya To Hotel Lisboa. Yang saya tahu, hotel itu dekat dengan Senado Square, dan karena guest house yang saya pesan dari Jakarta berada di wilayah yang sama, bus itulah yang kami naiki.

Sampai di Senado Square, ketersesatan kami belum berakhir. Kami belum megang peta soalnya, padahal kami nggak tahu letak tepatnya guest house. Tanya sana sini, jawabannya pada nggak pasti. Padahal badan udah lumayan pegel nih, jalan kaki manggul ransel 6,5 kg. Tau sendiri kalo di rumah nggak pernah olahraga.

Macau dijejali apartemen

Macau dijejali apartemen

Beruntung akhirnya ada polisi yang dengan bahasa Inggris patah-patah menerangkan letak guest house New Nam Pan. Itu pun dengan embel-embel “kalau nggak salah” :))

Sempat juga didatangi mas-mas yang saat melihat kami celingukan, menyarankan tempat untuk mencari penginapan. Dengan bahasa Indonesia, karena rupanya dia berasal dari Timor-Timur. Berarti bukan mas-mas dong ya hehe…

Pintu masuk guest house

Pintu masuk guest house

Guest House di Macau lumayan mahal. Dengan fasilitas standar kayak begini, tarifnya 380 dolar HK per malam (Rp 442.000). Tapi tempatnya bersih dan ada wifi gratis. Lumayan bisa chatting sama yang ditinggal di rumah😀

Setelah mandi dan istirahat sebentar, siap-siap deh menjelajahi Macau…

Halaman City of Dreams, itu the Venetian

The Venetian, dilihat dari halaman City of Dreams

Juli 2010

2 comments on “Lost in Macau

  1. Rika novita says:

    Hai, boleh sy minta email New Nampan hotel macau ? Tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s