Merangkul Alam di Balikpapan

with silvana di seberang pulau 6

Di seberang pulau 6, Samboja

Beberapa kali membaca novel lokal dan mancanegara yang bercerita tentang orang utan, saya dan Silvana memutuskan untuk bertandang ke Balikpapan, Kalimantan Timur, melihat langsung pusat rehabilitasi orang utan sebelum mereka dilepasliarkan ke alam bebas. Dan ternyata, bukan cuma orang utan yang bisa kita temui di salah satu kota penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia itu.

SAMBOJA LESTARI

Samboja Lodge

Samboja Lodge

Kurang lebih satu jam perjalanan dari Bandara Sepinggan, sampailah saya di lahan milik Yayasan Penyelamatan Orang Utan Borneo (Borneo Orangutan Survival / BOS). Lahan seluas dua ribu hektar ini, dulunya hanya berupa padang alang-alang setelah hutan di atasnya terbakar habis. BOS yang didirikan oleh Willie Smith, aktivis lingkungan asal Belanda yang telah menjadi warga negara Indonesia, merehabilitasi lahan tersebut hingga kini telah menjadi hutan sekunder.

Kamar twin bed, $160 per malam

Kamar twin bed, $160 per malam

Sebuah penginapan bernuansa alami juga didirikan untuk tempat tinggal para tamu yang ingin melihat dari dekat kehidupan orang utan yang sedang ‘dilatih’ agar bisa hidup di alam bebas. Tarif menginap di Samboja Lodge memang cukup mahal, namun masuk akal mengingat pendapatan dari lodge ini juga akan digunakan untuk membiayai program penyelamatan orangutan.

Orang utan di pulau 5

Orang utan di pulau 5

Dua ratusan orang utan yang ditampung di Samboja Lestari semuanya merupakan hasil sitaan dari penjualan ilegal dan perburuan liar. Itu sebabnya mereka perlu dibiasakan dahulu dengan kehidupan bebas, sebelum benar-benar dilepasliarkan ke hutan-hutan yang merupakan habitat alami mereka. Orang utan sendiri adalah spesies kera besar yang hanya terdapat di Pulau Sumatra (bernama latin Pongo abelli) dan Pulau Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Tempat rehabilitasi mereka terbagi menjadi beberapa bagian. Ada kandang-kandang besar di atas bukit dan enam pulau buatan di dataran rendah. Namun hanya pulau 6 yang boleh didatangi pengunjung. Semua orang utan di pulau 6 menderita penyakit hepatitis B, sehingga mereka dipastikan masih akan menghabiskan waktu lama di tempat ini. Sedangkan orang utan di pulau-pulau lain diusahakan tidak lagi bersentuhan dengan ‘kehidupan modern’ yang dekat dengan manusia.

Orang utan di pulau 6

Orang utan di pulau 6

Niat untuk berpose mesra dengan orang utan seperti aktris terkenal Julia Roberts pun gagal, karena mereka sama sekali tidak boleh disentuh. Kesamaan DNA antara manusia dan orang utan yang mencapai 93% membuat interaksi di antara kedua makhluk ini rawan mengundang potensi penularan penyakit. Tapi kami cukup puas menonton aktivitas mereka dari seberang pulau. Lucu sekali melihat mereka bercengkerama, berebut makanan, sampai mengupas kelapa dengan tiga tungkai sementara tungkai satunya dipakai untuk bergelantungan.

Tempat rehabilitasi beruang madu

Tempat rehabilitasi beruang madu

Selain orang utan, Samboja belakangan juga menjadi tempat rehabilitasi beruang madu, jenis beruang terkecil di dunia yang hidup di Asia. Beruang dengan ciri khas bulu kuning di dada yang menyerupai matahari (sehingga dikenal juga dengan nama sunbear) ini sudah masuk kategori endangered atau terancam punah akibat perburuan liar dan menyusutnya habitat alami mereka. Sedih rasanya melihat binatang perkasa yang cantik ini terpaksa hidup dalam lahan yang tidak terlalu luas di Samboja. Karena keterbatasan lahan pula, beruang betina dan jantan benar-benar dipisahkan agar tidak terjadi perkawinan dan kelahiran beruang baru. Begitu pula yang terjadi di tempat rehabilitasi orang utan.

Sedihnya terpenjara

Sedihnya terpenjara

Lima puluhan beruang madu yang ada di sini juga merupakan hasil sitaan. Kami sempat bertemu seekor beruang berkaki tiga, yang salah satu kakinya terpaksa diamputasi setelah terluka parah ditembak pemburu liar. Beruang madu di Samboja Lestari bisa dilihat dari jarak yang cukup dekat walaupun tetap dilarang menyentuh karena mereka tergolong binatang buas. Kalau terlalu dekat, salah-salah cakar panjang dan tajam mereka bisa mampir di tubuh kita. Tapi kalau mau, kita bisa ikut menyebarkan makanan berupa buah-buahan dan susu kedelai di kandang mereka pada waktu-waktu yang ditentukan. Tentu saja saat itu beruang-beruangnya sudah dipindahkan sehingga tidak mungkin bertemu muka dengan kita.

SUNGAI HITAM

Jenis primata lain yang hidup di Pulau Kalimantan adalah bekantan. Jika pernah ke Dunia Fantasi Ancol, pasti tidak asing dengan pemilik hidung panjang ini. Ya, bekantan adalah sosok yang dipilih menjadi maskot taman hiburan tersebut. Binatang yang hidup berkelompok dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon ini kami temui saat menyusuri Sungai Hitam, nama populer dari Sungai Kuala Samboja. Diberi nama Sungai Hitam karena airnya yang berwarna hitam, walaupun saat kami datang airnya berwarna cokelat keruh, yang menurut pemandu disebabkan karena sungai tengah banjir setelah Balikpapan diguyur hujan selama beberapa hari.

Barisan nipah di tepi Sungai Hitam

Barisan nipah di tepi Sungai Hitam

Walaupun menurut pemilik perahu populasi bekantan masih sangat banyak, nyatanya sejak tahun 1996 binatang bernama lain Proboscis Monkey ini sudah masuk Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation Nature) sebagai satwa yang terancam punah. Melihat habitat mereka di tepi Sungai Hitam, status endangered tampaknya bukan sesuatu yang aneh. Bekantan-bekantan ini hidup begitu dekat dengan manusia sehingga peristiwa kecelakaan, seperti tertabrak kendaraan, kadang-kadang tak dapat dihindari.

Pohon rambai (Sonneratia caseolaris) yang daunnya menjadi makanan bekantan juga kian jarang dan tepian sungai Hitam kini lebih didominasi pohon nipah serta pemukiman manusia, sementara hutannya sendiri sama sekali tidak lebat. Untunglah di pagi itu kami masih bisa melihat sejumlah bekantan di puncak-puncak pohon rambai.

Bekantan di pohon rambai

Bekantan di pohon rambai

Kami juga sempat melihat burung kingfisher yang berwarna cerah dan kadal berukuran besar yang sedang mandi matahari. Sayangnya tidak sempat tertangkap kamera karena mereka keburu kabur, mungkin terganggu oleh suara motor perahu.

 

CANOPY BRIDGE

Di atas jembatan tajuk

Di jembatan tajuk

Membaca bahwa satu dari delapan canopy bridge atau jembatan tajuk di dunia terletak di Balikpapan, kami tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengunjunginya. Jadilah beberapa jam sebelum kepulangan ke Jakarta, kami menyewa taksi untuk membawa kami ke Bukit Bangkirai, tempat jembatan tajuk berada. Bukit seluas 1500 hektar yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan konservasi ini, dapat ditempuh dalam waktu 1,5 sampai 2 jam dari pusat kota Balikpapan.

Jika tidak punya kendaraan sendiri memang cukup sulit untuk mencapai kawasan ini. Karena dari jalan raya, masih harus melewati sekitar 20 kilometer lagi untuk sampai di Bukit Bangkirai, dengan jalan yang tidak seluruhnya mulus. Namun begitu sampai di lokasi, jauhnya perjalanan langsung terlupakan saat bertemu hutan hujan tropis yang hijau, segar, dan menyejukkan mata.

Menara untuk turun dari jembatan tajuk

Menara untuk turun dari jembatan tajuk

Diresmikan sebagai kawasan wisata pada tahun 1998, Bukit Bangkirai memang dipenuhi oleh bangkirai, pohon yang penyebarannya terpusat di Kalimantan. Dengan diamater yang bisa mencapai dua meter lebih, bangkirai bisa tumbuh menjulang hingga 40 sampai 50 meter.

Jembatan tajuk atau jembatan gantung yang menghubungkan beberapa pohon besar ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan kedua di Asia setelah Malaysia. Dibuat oleh teknisi dari Amerika dibantu pekerja lokal, seluruh konstruksinya menggunakan kayu asal Kalimantan, dan pohon yang bisa digunakan sebagai ‘jangkar’ jembatan minimal sudah berusia lima puluh tahun. Panjang keseluruhan jembatan mencapai 64 meter dengan tinggi 30 meter dari permukaan tanah.

Bagi yang takut ketinggian, mungkin akan merasa jeri saat berada di atas sana. Apalagi, jembatan yang hanya muat untuk satu orang ini cukup kuat goyangannya saat dipijak. Itu sebabnya jembatan maksimal hanya boleh dilewati dua orang saja pada saat bersamaan, dengan jarak lima meter antara kedua orang tersebut, agar goyangannya tidak terlalu kencang. Jika cuaca sedang buruk atau ada angin kencang pun, jembatan ini ditutup karena terlalu berbahaya. Namun, bagi yang tidak bermasalah dengan ketinggian, dijamin akan betah berada di puncak pohon tua itu. Memandang kehijauan pekat di sekeliling kita sambil menikmati embusan angin sepoi-sepoi yang membelai wajah. Bersyukur betul punya negeri seindah Indonesia.

Cottage yang disewakan di Bukit Bangkirai

Cottage yang disewakan di Bukit Bangkirai

 

PESTA KEPITING

Ke Balikpapan belum lengkap kalau belum makan kepiting, begitu kalimat yang sering saya dengar. Sebagai kota pesisir, makanan laut memang menjadi menu utama jika berwisata kuliner di sini. Dan yang paling terkenal tentu saja kepitingnya.

Pusat Jajanan Pantai Melawai (belum buka)

Pusat Jajanan Pantai Melawai (belum buka)

Pertama-tama kami menjajal restoran Ocean’s, yang bisa didatangi dengan berjalan kaki saja dari hotel kami. Restoran yang cukup sering jadi rujukan ini terletak di pantai Melawai, berdampingan dengan sejumlah restoran lain sehingga menjadi pusat jajanan tepi pantai yang asyik. Jika memilih meja di dermaga kayu, menyantap kepiting saos padang yang pedas dan gurih terasa makin nikmat sambil memandang hamparan laut. Sementara di malam hari, pusat jajanan ini terasa romantis dengan penerangan temaram dari lampu-lampu bulat dermaga dan lilin di setiap meja.

Belum puas dengan satu menu kepiting, esoknya kami menyambangi Restoran Kenari yang termasuk legendaris di Balikpapan. Kali ini kami memilih kepiting goreng lada hitam yang porsinya luar biasa banyak untuk dua orang. Lagi-lagi kami dibuai oleh daging kepiting yang padat dan lembut. Silvana juga memesan dua porsi kepiting saos spesial yang menjadi andalan restoran Kenari, untuk dibawa pulang ke Jakarta. Menurut pegawai restoran, kepiting bisa tahan hingga dua hari jika disimpan di dalam kulkas.

Kepiting goreng lada hitam

Kepiting goreng lada hitam

Untuk buah tangan, kepiting juga sudah menjadi oleh-oleh khas dari Balikpapan. Anda bisa memilih abon atau stik kepiting, yang tentu saja lebih tahan lama daripada kepiting segar.

INFORMASI TAMBAHAN

Sukarelawan di Samboja Lestari

Sukarelawan di Samboja Lestari

Ternyata kita juga bisa lho ikut berpartisipasi dalam penyelamatan orangutan. Caranya dengan mengirimkan donasi, membeli merchandise, menjadi Sobat Orangutan, atau mengikuti program volunteer. Saat menginap di Samboja, kami berkenalan dengan Sarah, wanita Skotlandia yang sudah tiga minggu menjadi sukarelawan di sana. Kita juga bisa ‘membeli’ sepetak atau beberapa petak hutan untuk membantu pemeliharaannya (satu petak seharga €3 atau sekitar Rp 40.000,00), dan perkembangannya bisa dipantau melalui internet. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di http://www.orangutan.or.id.

Oiya satu lagi. Kalau ke Samboja, sempatkan bangun sebelum matahari terbit. And you will love the sunrise!!

Matahari terbit di Samboja

Matahari terbit di Samboja

Balikpapan, Kalimantan Timur 26 Februari – 1 Maret 2010

 

4 comments on “Merangkul Alam di Balikpapan

  1. mute says:

    Hayuk ke balikpapan lagi, cobain kepiting di dandito :))

  2. dg situru' says:

    mantap catatannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s