bruziati

My world and everything around it

Pentingnya Membaca Ulang

Salah satu tahap yang menurut saya sangat penting saat menerjemahkan adalah memeriksa hasil terjemahan atau membaca ulang. Ada yang memilih membaca ulang setiap selesai satu bab atau bahkan sebanyak target yang dicapai hari itu. Saya sendiri lebih suka membaca ulang setelah selesai satu buku. Untuk hasil terjemahan setebal 600-an halaman, saya butuh waktu kira-kira satu minggu untuk membaca ulang. Mungkin terasa membuang waktu, karena kita pasti kepinginnya cepat-cepat ngumpulin kerjaan dan dapat honor. Tapi demi kewarasan dan kebahagiaan editor, tidak ada salahnya meluangkan waktu sedikit lebih lama demi hasil terjemahan yang nyaman. Read more…

Sepatu Aladin

Setiap kali melihat model sepatu kulit yang bagian depannya lancip dan agak mencuat, suami saya pasti langsung cengar-cengir sambil menyeletuk, “Nggak bakal deh pakai sepatu kayak begitu.” Alhasil kalau mesti memakai sepatu resmi (karena sehari-hari dia ke kantor dengan sepatu keds), suami saya akan memilih model sepatu yang bagian depannya bulat atau kotak. Saya pikir dia hanya tidak suka modelnya, yang menurut saya memang agak aneh, walaupun saya lihat banyak juga kaum pria yang suka dan nyaman memakainya. Tapi ternyata ada cerita di balik ketidaksukaannya itu.

Waktu kuliah di Semarang dulu, suami saya pernah dibelikan sepatu oleh ibunya di pasar. Sepatu kulit sintetis berujung lancip yang harganya murah meriah. Waktu masih baru sih si sepatu baik-baik saja, dan suami saya yang saat itu memang suka dengan model sepatu rapi menerimanya dengan senang hati. Ya jelas senang lah, karena sebelum itu dia terpaksa memakai sepatu salah seorang teman yang berbaik hati memberikan sepatunya yang sudah dipensiunkan. Sepatu suami saya sendiri sudah lama jebol. Read more…

Mencari Jodoh Bersama Jane Austen

Judul : Three Weddings and Jane Austen

Penulis : Prima Santika

Editor : Nana Soebianto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Januari 2012

The importance of being married, julukan sang penulis tentang novel perdananya. Saat membaca halaman
‘Tentang Pengarang’ saya kebetulan sudah melewati beberapa bab dan julukan itu seolah memandu saya untuk memahami ide sang penulis.

Sampai segitunya? Yaa, terus terang saya tertarik pada novel ini karena judulnya. Kepingin tahu apa hubungan antara ketiga pernikahan itu dan Jane Austen. Terus terang lagi, saya nggak pernah kuat baca buku Jane Austen sampai selesai. Rasanya begitu laaama dan paaanjang untuk menceritakan sebuah adegan saja. Dan itulah yang saya temui dalam novel ini. Dialog-dialog panjang yang membuat saya kagum pada penulisnya karena begitu sabar merangkainya. Napas Jane Austen memang sangat terasa di sini, dalam dialog-dialog yang bercerita. Baik dialog dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dan yang membuat saya sempat kaget, penulisnya ternyata laki-laki. Tapi tidak terasa kecanggungan saat penulis bercerita dari sudut pandang perempuan. Dan bukan cuma satu perempuan, melainkan empat! Empat perempuan berbeda usia, berbeda karakter. Salut! Read more…

Goodnight Tweetheart…Selamat malam, Cinta

Judul : Goodnight Tweetheart…

Penulis : Teresa Medeiros

Penerjemah : Siska Yuanita

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Desember 2011

Pertemuan romantis lewat internet sudah beberapa kali diangkat menjadi tema buku maupun film. Mulai dari zaman chatting, Facebook, dan sekarang Twitter. Salah satu favorit saya apa lagi kalau bukan You’ve Got Mail, yang diperankan Tom Hanks dan Meg Ryan.

Goodnight Tweetheart berangkat dari fenomena Twitter yang mewabah di mana-mana. Salah satu dialog dalam buku ini menggambarkannya dengan tepat : “Twitter itu pesta koktail tanpa henti di mana orang berbicara bersamaan tapi tidak ada yang mengatakan apa pun.”

Kisahnya sendiri tentang seorang penulis bernama Abby Donovan, yang setelah sukses dengan novel pertamanya, kini terpuruk dalam apa yang disebut sebagai writer’s block. Akibatnya, kontrak dengan penerbit besar terancam putus dan Abby bakal kehilangan semua kenyamanan yang dia dapat berkat kesuksesan bukunya, termasuk apartemen mewah berpemandangan Central Park dengan sewa 6500 dolar sebulan. Lalu Abby berkenalan dengan twitter, bertemu lelaki dengan id @MarkBaynard, dan menemukan kembali gairah hidup yang sempat padam. Hanya satu hal yang menjadi masalah, apakah Mark Baynard benar-benar nyata? Read more…

Terjemahan dan Suntingan

TERJEMAHAN :

  1. Serial Ulysses More: Peta yang Hilang – Pierdomenico B (Erlangga, 2008)
  2. Gol! Kick Off – Luigi Garlando (Erlangga, 2008)
  3. Serial Ulysses Moore: Rumah Cermin – Pierdomenico B (Erlangga, 2009)
  4. I Can Make You Rich: Siapkah Anda Bahagia dan Menjadi Kaya – Paul McKenna (Matahati, 2009)
  5. Bad Men – John Connolly (Gramedia, 2009)
  6. Taman Rahasia – Frances Hodgson Burnett (Gramedia, 2010)
  7. Dear John – Nicholas Sparks (Gramedia, 2010)
  8. Gadis Pendongeng – LM Montgomery (Gramedia, 2010)
  9. The Help – Kathryn Stockett (Matahati, 2010)
  10. Ukuran 12 Tidak Gemuk – Meg Cabot (Gramedia, 2010)
  11. Ratu Ngoceh – Meg Cabot (Gramedia, 2010)
  12. Serial Ulysses Moore: Pulau Topeng (Erlangga, 2010)
  13. Suddenly Supernatural – Elizabeth Cody Kimmel (Atria, 2011)
  14. Scones and Sensibility – Lindsay Eland (Atria, 2011)
  15. Ukuran 14 Pun Tidak Gemuk – Meg Cabot (Gramedia, 2011)
  16. Ratu Ngoceh di New York City – Meg Cabot (Gramedia, 2011)
  17. The Farseer: Assassin’s Apprentice – Robin Hobb (Matahati, 2011)
  18. Suddenly Supernatural 2 : Kat si Medium Penakut (Atria, 2011)
  19. Suddenly Supernatural 3 : Medium yang Tidak Bahagia (Atria, 2011)
  20. The Gates (Gerbang Neraka) – John Connolly (Gramedia, 2011)
  21. Suddenly Supernatural 4 : Hantu Dalam Bus (Atria, 2012)

SUNTINGAN :

  1. Reckless – Cornelie Funke (Gramedia, 2012)


Work Experience

Freelance English translator at:

  1. PT Indosiar Visual Mandiri (1996 – 2002)
  2. Erfa Selaras Production House (2002 – 2009)
  3. Erlangga Publication (2006 – present date)
  4. Gramedia Pustaka Utama (2007 – present date)
  5. Translating for Fox Television Shows  (2007 – 2008)
  6. Matahati Publication (2009 – present date)
  7. Atria Publication (2010 – present date)

 

Scriptwriter at:

  1. QKais Production House (2006 – 2007) : Writing feature / narration for TV shows
  2. Jiwa Kreasi (2009) : 13 episodes of  VB Travel Guide

 

Producer at:

  1. PT Media Televisi Indonesia / Metro TV (2002 – 2006) as Associate Producer for ShowBiz News, Metro Kampus, World News, and Metro Malam
  2. Jiwa Kreasi (2009) as Content Producer for TV Program Just Alvin (21 episodes)

 

Ide Itu Murah (Andai Saya Bertukar Tempat dengan Lauren Oliver)

Bertahun lalu, mungkin sekitar tahun 2008, saya pernah menerjemahkan / membuat subtitle untuk dvd edukasi tentang proses reproduksi manusia. Saya lupa tema persis dan uraian ilmiahnya, tapi yang paling nempel di kepala adalah bagian yang menjelaskan bahwa manusia dikaruniai naluri untuk memilih pasangan yang tepat untuknya. Bahkan ada penelitian yang meminta responden perempuan untuk memilih satu dari beberapa kaus bekas dipakai selama dua hari oleh pria yang berbeda. Jadi kaus itu sudah menyimpan bau khas pria yang mengenakannya. Ternyata kaus yang dia pilih adalah milik pria yang jika menjadi suaminya, akan menghasilkan keturunan yang sempurna. Intinya, ilmu pengetahuan yang dingin dan berjarak bisa digunakan untuk memasang-masangkan manusia agar memiliki keturunan yang unggul. Tentu saja cinta harus dikesampingkan dalam hal ini.

Saya benar-benar terpikat pada fakta tersebut, dan langsung membayangkan jika saya menulis cerita yang berangkat dari sana. Sudah terbayang di kepala dunia masa depan ketika cinta dilarang dan orang hanya boleh menikah dengan pasangan yang ditetapkan untuknya, supaya tidak ada lagi manusia-manusia cacat atau kurang sempurna. Karena dunia di masa depan adalah dunia yang langka sumber daya, sehingga semua manusia yang lahir haruslah berguna dan bukan sekadar penyedot sumber daya tanpa prestasi. Lalu tokoh saya tak sengaja menemukan cinta dan harus memilih antara taat peraturan atau mengikuti naluri alaminya sebagai manusia.

Ide itu terus bermain-main di kepala saya, tapi saya terlalu malas untuk duduk dan benar-benar mewujudkannya menjadi sebuah cerita. Hanya membayangkan kalau saya mengirim cerita itu ke lomba cerpen/cerber femina, sampai ‘bertekad’ mengikutsertakannya dalam lomba Fantasy Fiesta 2011 lalu di sini. Tapi ya begitu saja. Hanya sekadar ide dan keinginan dan khayalan di siang bolong.

Lalu beberapa minggu lalu saya mulai membaca  Delirium karya Lauren Oliver dan langsung tersentak. Perlu diketahui, saya paling tidak suka membaca sinopsis atau informasi apa pun tentang buku yang belum saya baca, jadi saya benar-benar tidak tahu isi buku ini.

Begini sinopsisnya:

Before scientists found the cure, people thought love was a good thing. They didn’t understand that once love — the deliria — blooms in your blood, there is no escaping its hold. Things are different now. Scientists are able to eradicate love, and the government demands that all citizens receive the cure upon turning eighteen. Lena Holoway has always looked forward to the day when she’ll be cured. A life without love is a life without pain: safe, measured, predictable, and happy.

But with ninety-five days left until her treatment, Lena does the unthinkable: She falls in love.

Saya sudah selesai membaca Delirium, dan tentu saja saya tidak secanggih Lauren Oliver dalam menciptakan dunia, karakter dan peraturan-peraturan di masa depan yang dia susun untuk menopang kisahnya. Karena tidak seperti Lauren, saya tidak meluangkan waktu dan mencambuk diri saya untuk benar-benar menuliskan isi pikiran saya. Memang, kalau saya menuliskannya belum tentu sebagus itu. Siapalah saya! Tapi tetap saja, saat membaca Delirium saya mau tak mau meringis dan timbul sebersit penyesalan di hati.

Benarlah kata penulis kawakan Clara Ng, Punya ide itu mudah, murah. Ada segudang kelebatan ide di kepala. Yang susah adalah menuliskannya. Apalagi mengkomposisikan prosa panjang.

Gambar diambil dari theoutsourcingcompany.com

Batik, Seribu Kisah dalam Sehelai Kain

Walaupun pamor batik seolah baru ‘bangkit’ beberapa tahun belakangan ini, namun saya yakin banyak orang menyimpan kenangan tentang batik sejak sangat dini, termasuk saya. Bagaimana tidak, waktu kecil saya digendong ke mana-mana dengan ambin batik atau gendongan jarik istilah akrabnya, ayah saya yang pegawai negeri selalu pakai batik korpri setiap kali ada acara wajib, saat  sekolah pun ada seragam batik yang dipakai sekali seminggu. Pokoknya batik selalu hadir sepanjang perjalanan hidup saya, dalam berbagai bentuknya.

Salah satu kenangan terindah saya dengan almarhumah Ibu juga tidak jauh-jauh dari batik. Kami pernah menghabiskan waktu berdua saja di pasar Beringharjo, sejak para pedagangnya masih beres-beres lapak sampai lewat tengah hari. Belanja seprai, kerudung, blus, sampai daster aneka warna. Tentu semuanya berbahan batik. Menjelang pulang kami baru sadar dompet Ibu hilang dicopet, tapi kami malah nyengir dan bersyukur. Karena untung saja dompet itu dicopet setelah uang di dalamnya habis buat belanja batik :) Read more…

Serba Minimalis di Hotel Pop! Bandung

Hotel yang baru dibuka bulan Desember 2011 lalu ini memang serba minimalis. Namanya juga budget hotel, jadi yang kita dapat benar-benar sesuai dengan yang kita bayar.

Dimulai dari lobi yang fungsional, hanya meja resepsionis dan tiga komputer berinternet bebas pakai di sebelah kiri, serta ruang makan kecil di sebelah kanan. Adik saya sempat menanyakan apakah ada troli untuk membawa barang-barang, maklum dengan dua balita bawaannya lumayan banyak. Tapi petugas resepsionis mengatakan bahwa di hotel ini semua self-service, jadi untuk membawa barang pun tidak ada bantuan. Begitu pun saat Eko meminta plester untuk keponakan saya yang jarinya terluka, petugas hotel mempersilakan kami membeli sendiri di mal :P

Read more…

Gadis dengan Kaki dari Kaca

Judul Asli : The Girl with Glass Feet

Penulis : Ali Shaw

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 432 halaman

Cetakan: I, Maret 2011

“…kau tidak pernah ingin tahu…ke mana perginya perasaan?”

Jika diminta menceritakan isi buku ini, rasanya saya hanya bisa menjawab bahwa Gadis dengan Kaki dari Kaca adalah sebuah dongeng yang indah tentang perasaan dan isi hati manusia. Mungkin tubuh yang berubah menjadi kaca atau makhluk-makhluk aneh bersayap yang ditemukan di Kepulauan St. Hauda’s Land adalah metafora yang digunakan penulis dan hanya dia yang benar-benar memahami maknanya. Karena sampai seribu tahun dari sekarang pun mungkin saya tidak akan pernah melihat gadis berkaki kaca atau lembu bersayap, tapi saya paham bahwa pertemuan dengan mereka bisa mengubah hidup saya dengan cara yang tak pernah terbayangkan.

Read more…

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.